· Buntut Penurunan Pasien akibat Regulasi BPJS

SLEMAN-Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sleman mengalami dampak akibat pembaruan regulasi baru BPJS yaitu sistem rujukan berjenjang. Akibatnya, RSUD Sleman yang merupakan rumah sakit kelas B kini mengalami penurunan pendapatan.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman pada 2018 ini memberikan subsidi Rp 34,88 miliar agar operasional rumah sakit tetap berjalan.”Subsidi ini kami berikan karena memang sangat mendesak,’’ kata Kabid Anggaran Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman Aji Wibowo Rabu (10/10).

Pemberian subsidi ini, kata Aji, mengacu pada tingkat kunjungan pasien di RSUD Sleman. Menurutnya, saat ini kunjungan menurun hingga 60 persen. Subsidi total yaitu komposisinya dari belanja tidak langsung (BTL) dan belanja langsung (BL) Rp 34,88 miliar. “Kalau subsidi BL saja Rp 12,40 miliar karena gaji Rp 22,48 miliar,” jelasnya.

Angka tersebut nantinya masih bisa direvisi dan ditinjau ulang. Mengingat dengan kunjungan pasien yang menurun akan berpengaruh pada operasional dan pendapatan rumah sakit sehingga nantinya anggaran bisa diubah. “Nanti kami lakukan efisiensi, karena RSUD Sleman belum merinci pengeluaran, makan minum pasien, obat pasien, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Sebenarnya, BKAD Sleman bisa saja menganggarkan untuk alat pelayanan kesehatan. Utamanya alat yang berkaitan dengan spesialisasi semisal untuk spesialis mata. Hal itu semata-mata agar pelayanan kesehatan di RSUD Sleman bisa semakin berkembang.
“Tapi sebelum minta alat harus ada blue print-nya dulu,” tuturnya.

Plt Dirut RSUD Sleman Joko Hastaryo mengatakan penurunan kunjungan bukan hanya terjadi di RSUD Sleman saja. Melainkan juga terjadi di seluruh rumah sakit kelas B di seluruh Indonesia. “Ya terdampak dari sistem rujukan berjenjang ini ada di pendapatan,’’ kata Joko.

Dalam sistem rujukan berjenjang ini, pasien harus melalui berbagai tahapan. Pertama dari fasilitas kesehatan tingkat 1 (PPK 1), yakni puskesmas dan dokter keluarga. Dari situ, baru bisa dirujuk ke rumah sakit kelas D. Jika rumah sakit kelas D tidak bisa menamgani baru dirujuk ke kelas di atasnya. “Jadi prosesnya panjang,” kata Joko.

Dengan proses rujukan yang begitu panjang ini Joko khawatir pada keadaan pasien. Sebab dalam menangani pasien harus cepat agar meminimalisasi risiko.”Pasien kan inginnya segera mendapatkan penanganan” ujarnya.

Selain itu, menanggapi rendahnya kunjungan ini RSUD Sleman terpaksa melakukan efisiensi. Caranya dengan menghemat listrik, mengurangi biaya makan petugas dan belanja obat. (har/din/fj/mo2)