Sungai Bogowonto yang menjadi bagian urat nandi kehidupan masyarakat Purworejo. Di sepanjang sungai ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sayangnya, potensi besar ini belum banyak yang menggarap.

BUDI AGUNG, Purworejo

Siang itu, suasana siang di pinggiran sungai Bogowonto di Kelurahan Pangenrejo, Kecamatan Purworejo terlihat sepi. Tidak terlihat satu orang pun berada di sungai yang hanya mengalirkan air di bagian yang agak dalam.

Namun di atasnya, ada sedikit keramaian. Dari dua buah rumah berbentuk joglo, bangunan yang ada di sebelah selatan sangat mencolok. Nuansa tradisional Jawa terlihat kental di tempat tersebut, beragam pernik juga terlihat tempo doeloe.

Memasuki joglo lebih dalam, suasana rumah-rumah desa sangat terasa. Ada meja panjang lengkap dengan kursi panjangnya atau risban saling berhadapan. Setidaknya ada empat meja panjang. Setiap dua meja ditempatkan sejajar.

Di sisi kanan bagian dalam rumah ada tempat duduk cukup luas yang biasa disebut amben bagi orang Jawa. Di atasnya ditempatkan beragam jenis makanan dengan menu utama berasal dari ikan. Sayuran tradisional juga jelas terlihat di antaranya sayur jantung pisang dan oseng jamur.

Saat memilih menu makanan, mata bisa melihat luasnya sungai Bogowonto yang memanjang dari utara ke selatan. Hanya diberikan pengaman pagar bambu atau gethek, nuansanya sangat asri dan nJawani. Pengunjung yang siap melahap menu makanan pilihannya bebas menentukan tempat duduk. Jika ingin di luar, ada amben tanpa meja dan harus duduk bersila untuk menatap Bogowonto. Namun jika ingin agak tenang bisa di dalam memanfaatkan risban dan meja yang ada.

Ya, orang menyebut kawasan itu adalah Warung Bogowonto. Belakangan ini namanya sedang naik daun dan menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menikmati makan siang dengan nuansa khusus. “Memang dari awal saya ingin membuka usaha yang sekalian saya bisa nunut makan,” kata sang pemilik warung Rinto (50).

Sebelum menetapkan pilihan di Kelurahan Pangenrejo, Rinto mengaku melakukan survei sepanjang sungai dari Sejiwan Kecamatan Loano hingga Borowetan di Kecamatan Banyuurip. Dari sekian banyak itu, dia menetapkan Pangenrejo karena suasana lingkungan masih jauh dari sentuhan modern dan airnya sungai lebih tenang.

Sungai yang berada di bawah warung, selama ini pun bisa dimanfaatkan untuk berkegiatan. Hamparan pasir kali dan nyaris tanpa ada batuan sebesar kerikilpun bisa jadi ajang permainan yang menyenangkan. “Memang konsep yang diusung tetap nJawani dan makananannya juga makanan ndeso dengan menu utama aneka olahan ikan sungai,” jelas Rinto.

Dibuka sejak Januari 2018, lambat laun pertumbuhan pengunjung terus meningkat. Tidak sekdar berurusan dengan hal yang komersial, Rinto juga kerap menggelar aneka kegiatan seni di tempat tersebut. Dia rela menyediakan tempat untuk beberapa kegiatan pameran dengan tujuan ingin turut memberikan ruang berkarya bagi para seniman. (din/er/mo2)