JOGJA – Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata dinilai masih rendah. Termasuk untuk anak. Sebagian besar mereka tidak tahu kalau punya masalah di mata, hingga didiagnosa mengidap penyakit mata oleh dokter.

Ketua Bank Mata Jogja Suhardjo mengatakan para anak baru tahu ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan di sekolah. Bank Mata Jogja proaktif mendatangi sekolah sekolah untuk pengecekkan mata.

“Mata minus dan rabun jauh pasti akan mengganggu prestasi belajar, karena tidak ada orangtua manapun yang menginginkan anaknya jadi bodoh rapornya turun nilainya,” ujar Suhardjo dalam jumpa pers World Sight Day  di RS Mata Dr “YAP” Rabu (10/10).

Mengutip Riset Dasar Kesehatan 2008, prevalensi kelainan refraksi adalah 25 persen dari seluruh penduduk di Indonesia atau sekitar 55 juta jiwa. “Bisa saja lebih banyak karena ddiabaikan oleh pasien,” katanya.

Pada usia muda, prevalensi ini lebih tinggi lagi yaitu mencapai 48,1 persen. Sayangnya kelainan reflaksi seperti mata minus, plus, atau silinder ini sering tidak dirasakan oleh pasien sejak dini, sehingga berkembang menjadi mata malas atau amblyopia. Kelainan mata lain yang bersifat menyebabkan kerusakan ireversibel yaitu glaukoma menunjukkan prevalensi sebesar 2,53 persen.

Kelainan reflaksi yang paling sering ditemukan pada usia remaja atau dewasa muda adalah myopia. Myopia merupakan penyakit mata yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja karena penurunan ketajaman penglihatan.

Menurut dia penggunaan gadget yang terus menerus memiliki dampak buruk bagi mata. Mata yang terlalu sering berhadapan dengan gadget akan cepat lelah dan menimbulkan berbagai keluhan mata. Mata lelah atau asthenopia, mata kering akibat penurunan frekuensi berkedip. “Juga jarak yang relatif pendek selama penggunaan gadget merupakan beberapa alasan yang menyebabkan pengaruh buruk pada penggunaan gadget yang terlalu lama,” katanya.

Suhardjo menambahkan gaya hidup sehat merupakan kunci dari kesehatan mata. “Peningkatan konsumsi sayuran, menjaga berat badan dalam rentang ideal dan menyediakan waktu berolahraga merupakan salah satu jalan untuk mencegah kelainan,” tambahnya. (cr8/pra/zl/mo2)