Harga Premium, Solar dan Pertalite Tetap

JOGJA – Pertamax series memang bukan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, yang kenaikan harganya menyesuaikan harga pasar. Tapi tetap saja kenaikan Pertamax series dan Dex series Rabu siang (10/10) mulai pukul 11.00 mengagetkan para penggunanya.

Khususnya bagi pengguna jenis pertamax. Masyarakat mengeluhkan tentang mendadaknya kenaikan harga sebesar Rp.900 pada bahan bakar non subsidi ini. Harga yang sebelumnya sebesar Rp 9.500 per liter berubah menjadi Rp 10.400 per liter. Sedang harga pertalite tetap Rp 7.800 per liter.

Roni pemilik kendaraan motor bebek bermesin 150 cc menilai kenaikan harga pertamax adalah suatu hal yang mendadak. Dirinya menganggap belum ada sosialisasi sebelumnya.

“Baru tau kalau kenaikan dimulai jam 11, memang pas mau beli petugas sudah menjelaskan. Tapi kenapa baru hari ini, harusnya dari kemarin sudah diberitahu,” keluhnya saat ditemui di SPBU Lempuyangan.

Meski ada peningkatan harga, Roni tidak terlalu mempersoalkan tentang naiknya bahan bakar yang biasa dipakai pada motornya. Dia menuturkan seiring berjalannya waktu, dirinya bisa memaklumi.

“Kalau menurut saya gak terlalu banyak juga naiknya, cuman mendadak. Lama-lama nanti juga biasa,” tuturnya.

Pembeli lain, Sri Rahayu (43) mengungkapkan rencana naiknya harga ini juga belum diinformasikan ke media sebelumnya. Sehingga dia baru tahu kalau ada kenaikan sebesar itu. Meski juga bisa memaklumi, Sri Rahayu berharap pengumuman kenaikan bisa dilakukan sebelumnya.

“Biasanya kalau harga naik ditayangin di televisi. Ini tidak,” tuturnya.

Pengelola SPBU Lempuyangan Anang Gunawan mengaku sudah berkoordinasi dengan petugas untuk menjelaskan tentang kenaikan harga. Dia menghimbau kepada perugas pengisi bahan bakar bahwa keputusan kenaikan harga ini merupakan dari pusat, dan seluruh SPBU juga mengalami hal yang sama.

Sebelum pukul 11.00 SPBU juga ditutup selama beberapa menit. “Sebelum pukul 11.00 sudah kami tutup dan mensterilkan pembeli. Setelah terjadi perubahan harga, baru kami buka lagi,” ujarnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Pengawas BBM di Lempuyangan itu memperkirakan dengan adanya kenaikan ini tentu akan berpengaruh pada peminat bahan jenis Pertamax. Anang juga menjelaskan perbandingan pemakai bbm non subsidi ini lebih banyak dari bahan bakar subsidi seperti Pertalite dan Premium.

Dalam pers rilis yang dikeluarkan External Communication Manager PT Pertamina Arya Dwi Paramita, disebutkan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar Non subsidi merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang menembus 80 dolar per barel. Penetapannya mengacu pada Permen ESDM nomor 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM. (cr5/pra/zl/mo2)