Sebagian orang mungkin sulit membedakan antara Sastra Inggris dan Bahasa Inggris. Ya, kendati punya beberapa kesamanaan dalam mempelajari bahasa. Tapi sejatinya kedua cabang ilmu ini berbeda. Secara garis besar Bahasa Inggris porsi linguistiknya lebih banyak. Sedangkan Sastra Inggris punya keseimbangan dalam mempelajari keduanya.

Perbedaan ini fokus pada kurikulumnya. Bahasa Inggris lebih banyak belajar aplikasi teori linguistik untuk menganalisa fenomena penggunaan bahasa. Misal pada koran, iklan, maupun film. Untuk Sastra Inggris lebih banyak menganalisa dengan pendekatan yang lebih mutakhir. Seperti pendekatan sosiologis, psikologis, feminisme untuk menganalisa cerpen, novel, puisi, maupun film yang berbahasa Inggris.

Prodi Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta punya tiga peminatan yang harus diambil mahasiswa pada semester lima. “Yaitu bahasa, sastra dan kajian Amerika,” ungkap Ketua Prodi Sastra Inggris UAD Tri Rina Budiwati kepada Radar Kampus saat ditemui di ruangannya, Rabu (10/10).

Tiga hal itu masih relevan dihubungkan dengan dunia kerja. Dari penelusuran prodi, para alumni Sastra Inggris, 97 persennya bekerja sesuai bidang Sastra Inggris. Misal kiprahnya mulai dari pelayaran, kapal pesiar, penerjemah dan trainer di perusahaan asing, wartawan, maupun departemen pariwisata.

Selain itu alumni juga banyak berkiprah di dinas pendidikan. Berprofesi sebagai dosen, guru, maupun wirausaha bidang Sastra Inggris dengan membuka kursus Bahasa Inggris. “Alhamdulillah sebagian besar alumni juga sudah mendapat pekerjaan maksimal enam bulan setelah wisuda. Setidaknya mereka bisa bermanfaat bagi masyarakat,” kata Rina, panggilannya.

Kelebihan Sastra Inggris UAD dari perguruan tinggi lain, prodi ini punya kurikulum berbasis Islam.  Bahkan pada sisi keagamaan lebih menekankan akhlak, moral dan integritas yang baik. Perpaduan antara moral yang baik dan kecerdasan inilah yang nantinya diharapkan bisa menciptakan lulusan yang berintegritas.

“Kuliah Studi Islam diajarkan kepada mahasiswa sebanyak 16 SKS sendiri. Termasuk muatan ketika dosen mengajar sastra, harus dibarengi dengan muatan Islam yang baik,” tegas perempuan 45 tahun ini.

Peminat prodi ini juga semakin meningkat, terutama pada empat tahun terakhir. Apalagi UAD kini sudah meremajakan diri. Dari sisi sarana prasarana dan kualitasnya juga terus dirtingkatkan. Sastra Inggris UAD juga banyak melakukan kerja sama internasional. “Sejak 2009 sudah mengirimkan mahasiswa, minimal ke ASEAN,” jelasnya.

Prodi ini juga sudah bekerjasama dengan Dikti dan ASEAN International Mobility for Student (AIMS) dengan program credit transfer system di Thammasat University (Thailand), dan Universiti Teknologi Mara (Malaysia) dengan dana Dikti sejak 2010-sekarang. “Pada program ini mahasiswa kuliah satu semester di universitas yang dituju,” jelasnya.

Prodi Sastra Inggris UAD juga sering mendapat hibah joint curriculum. Yaitu semacam kerja sama dalam hal pertukaran pelajar. Mata kuliahnya disinkronkan dan itulah yang yang akan dipelajari mahasiswa.

“Ada juga pertukaran dosen untuk saling mengajar satu sama lain. Selain itu ada joint research, serta program penulisan jurnal bersama,” jelasnya.

Pada 2015 Prodi Sastra Inggris UAD pernah mengirimkan mahasiswa dalam kegiatan culture exchange di Hungaria. Selain itu juga mengirim mahasiswa ke Taiwan dalam acara summer camp untuk youth program.

“Kami juga sering mengundang dosen tamu dari berbagai negara dalam kegiatan perkuliahan. Selain itu juga mendatangkan pembicara dari Amerika, Hungaria, Australia, Italia, Philpina dan Thailand untuk kuliah umum,” ungkapnya. (ega/laz/er/mo2)