SLEMAN-Kabupaten Sleman selayaknya berbangga. Sebab, Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan masuk dalam nominasi Desa Terbaik Nasional Tahun 2018 untuk kategori Prakarsa dan Inovasi Desa.

Kepala Desa Wukirsari Fuad Jauhari menyebut ada tiga inovasi utama yang mengantarkan Desa Wukirsari ke pentas nasional.”Sistem Pemanfaatan Data Kependudukan (SIDAMPAK), konservasi Burung Tyto Alba untuk mengusir hama tikus, dan sekolah pintar,” kata Fuad Senin (8/10).

SIDAMPAK ini meupakan sistem yang mengelola administrasi kependudukan secara baik dan transparan. Bahkan, saat ini sudah banyak desa yang belajar dan mengadopsi sistem ini.

Dengan SIDAMPAK ini masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan akta kelahiran maupun kematian. Sebab, semua telah terintegrasi ke dalam satu sistem berbasis online sehingga pelayanan bisa lebih cepat. “Hingga saat ini sudah ada 70 desa di Sleman.Bahkan 12 desa di Kuningan, Jawa Barat juga turut mengadopsi sistem ini,” jelasnya.

Di samping itu, pihaknya juga menciptakan inovasi Program Sekolah Pintar. Sekolah ini sebagai ujung tombak pendidikan karakter di Wukirsari. Fuad menjelaskan saat ini banyak aksi bullying yang dilakukan oleh pelajar. Oleh karenanya, Sekolah Pintar ini juga merupakan salah satu upaya pencegahan tindak kekerasan. “Sekolah Pintar ini menyasar pada anak usia muda, dengan diajarkan pendidikan reproduksi bagi remaja usia produktif agar tidak ada nikah muda serta pengetahuan pengasuhan anak,” jelasnya.

Peningkatan ekonomi kerakyatan juga menjadi perhatian khusus. Sebab, mayoritas masyarakat di Wukirsari bekerja sebagai petani, sehingga pemasukan bergantung kepada hasil panen. Sayangnya, dulu hama tikus sering menyerang sawah waega. Akibatnya, tak jarang terjadi gagal panen.

Fuad bersama-sama dengan warga a lantas berinisiatif untuk memerangi hama tikus. Akhirnya, muncul Program Konservasi Burung Hantu jenis Tyto Alba yang merupakan predator alami hama tikus.

“Keberadaan burung hantu ini telah berhasil meningkatkan produksi gabah hingga 31 ton dari sebelumnya hanya 8 ton,” kata dia.
Lebih lanjut, Fuad mengaku tidak ada persiapan apapun untuk meraih predikat Desa Terbaik Nasional. Baginya, sudah sejak lama persiapan itu sudah dilakukan. “Semua ya seperti ini, tidak ada persiapan khusus hanya saja kami akan terus melakukan inovasi,” tegasnya.

Keberhasilan itu tak luput dari pengamatan Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) yang meninjau Desa Wukirsari bersama dengan perwakilan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI Sabtu (6/10). Kuncinya, kata SP, adalah pada komunikasi.

Menurutnya Pemerintah Desa (Pemdes) Wukirsari dapat membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat. Sehingga upaya untuk membangun dan memajukan desa dapat dilakukan secara efektif.

“Melalui berbagai inovasi yang telah dilakukan, diharapkan dapat memberikan kemudahan pelayanan publik bagi warga masyarakat,” ucap SP.

Sementara itu, perwakilan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI Muhammad Rifai berharap inovasi yang telah diakukan Desa Wukirsari tidak berhenti setelah penilaian ini. Dia berharap kegiatan-kegiatan positif yang telah dilaksanakan dapat terus berlanjut ke depan.

Sebab, hal tersebut menurutnya akan berdampak baik bagi kesejahteraan masyarakat. Jangan sampai inovasi ini selesai setelah lomba.”Karena salah satu tujuan dari lomba ini supaya desa yang sudah baik ini dapat menjadi contoh bagi desa lainnya,” jelas Rifai. (har/din/rg/mo2)