Disdikpora Mewaspadai Insiden Siswa Membolos

SLEMAN – Kabar buruk bagi suporter PSS maupun PSIM. Derbi mataram pada pekan ke-21 dalam lanjutan Liga 2 wilayah timur dipastikan tanpa penonton.

Kepastian itu disampaikan Karo Ops Polda DIJ Kombespol Iman Prijanto saat rapat koordinasi (rakor) keamanan di Gedung Serbaguna Mapolda DIJ Senin (8/10). Turut hadir dalam rakor, perwakilan dua kelompok suporter dan manajemen klub.

Perwira menengah tiga melati ini menegaskan bahwa keputusan mengenai derbi mataram yang rencananya digelar di Maguwo International Stadium (MIS), Sleman Rabu (10/10) telah final.

Ada beberapa pertimbangan yang melatarbelakangi keputusan ini. Antara lain, keamanan dan menghindari kericuhan. Terlebih, derbi sarat gengsi ini bebarengan dengan masa kampanye Pemilu 2019. Jatuhnya korban jiwa saat derbi mataram di Stadion Sultan Agung (SSA) pada 26 Juli lalu juga menjadi perhatian serius aparat.
”Kami meminta agar perwakilan yang datang hari ini menyampaikan ke teman-teman yang lainnya,” pintanya.

Iman tak menampik bahwa tetap ada pihak yang tidak puas atas keputusan ini. Kendati begitu, Iman menegaskan bahwa kepolisian tidak akan segan menindak suporter yang nekat ingin menonton pertandingan di stadion. Sebab, kepolisian bakal menerjunkan para personelnya. Disebar di berbagai titik. Seperti di area MIS dan beberapa ruas jalan menuju stadion kebanggaan warga Sleman itu.

”Selama masa (kampanye) ini tidak boleh ada keributan. Apapun yang bersifat massa dihindari. Ini adalah salah satu poin dalam operasi Mantab Brata Progo,” tegas Iman seraya mengimbau suporter kedua klub tetap berbesar hati.

Wakil Ketua Bidang III Koni DIJ Nolik Maryono menyambut baik keputusan itu. Meski dia semula menyarankan tetap ada penonton. Itu mengacu pada keputusan laga pertama kala PSIM menjamu PSS di SSA Bantul pada 26 Juli. Dalam pertemuan itu, kedua kubu sepakat ada penonton. Hanya, jumlah penonton dari suporter PSS dibatasi. Slemania dan Brigata Curva Sud masing-masing hanya diberikan jatah 15 tiket.

”Tapi kalau sudah itu (tanpa penonton, Red) ya sudahlah tidak apa-apa. Karena pertimbangannya keamanan,” ucapnya pasrah.

Namun, Nolik mewanti-wanti keputusan ini harus benar-benar disampaikan ke seluruh penggawa suporter. Bahkan, bila perlu ada pendekatan hingga ke elemen suporter paling bawah.

”Mau sampai kapan seperti ini (tidak akur, Red) terus. Padahal, petingginya akur,” tuturnya.

Seperti Nolik, Kepala Bidag Pendidikan Menengah dan Tinggi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Triana Purnawati juga mengapresiasinya. Namun, Triana mengingatkan, pertandingan tanpa suporter tak menjadi garansi bahwa siswa lusa tidak akan membolos.

Merujuk pengalaman saat derbi pertama, ada ribuan siswa membolos. Dari hasil penelusuran Disdikpora, ada undangan yang disebarkan ke sekolah. Isinya ajakan menonton di stadion. Dalam undangan itu juga dicantumkan bahwa jam berkumpul pada siang hari alias saat masih kegiatan belajar mengajar. Alih-alih masuk sekolah, ribuan siswa yang mayoritas dari Kota Jogja itu akhirnya memilih membolos.

”Karena kalau masuk (sekolah) tidak mungkin bisa keluar karena pintu gerbang sekolah dikunci. Berharap ini jadi perhatian dan tidak terulang lagi,” pintanya. (dwi/zam/by/mo2)