JOGJA – Predikat Kota Pelajar memang layak disandang bagi Kota Jogjakarta. Salah satunya karena hingga kini Jogjakarta masih menjadi tujuan banyak orang untuk menuntut ilmu. Menurut jajak pendapat yang dilakukan Mamikos, ada beberapa alasan kenapa Jogja masih dipercaya orang tua untuk mengirimkan anaknya kuliah.

Jajak Pendapat Mamikos. (MAMIKOS FOR RADAR JOGJA)

Humas Mamikos Sri Mona menjelaskan, berdasarkan jajak pendapat, responden mahasiswa yang kuliah di Jogjakarta, berusia 16 hingga 25 tahun. Diperoleh sejumlah data yang relevansinya sangat meyakinkan terutama pilihan tinggal kuliah, kebiasaan, dan aktivitas mahasiswa baik di kampus maupun pilihan tempat kos. Hingga mahasiswa yang bersangkutan memilih Jogjakarta sebagai harapan mencari masa depan di bidang pendidikan.

”Jogjakarta dianggap menjadi barometer pendidikan karena memiliki kampus-kampus yang dianggap berkualitas baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta,” ungkapnya.

Jogjakarta juga masih menjadi magnet bagi orang luar daerah. Persepsi ”Jogja merupakan Kota Pelajar” menjadi alasan paling kuat bagi 28 persen responden, didukung dengan faktor penduduk Jogjakarta yang dikenal ramah tamahnya.

”Sedangkan, sebanyak 15 persen memilih Jogja karena dianggap nyaman dan Jogja sebagai miniatur Indonesia sekaligus rumah bersama,” jelasnya.

Di Kota Jogja juga terdapat kampus-kampus terbaik di Tanah Air, hal ini menjadi pilihan sebanyak 14 persen responden, sementara biaya hidup di Jogja yang murah dipilih responden sebanyak 10 persen.

Sebagian mahasiswa menjawab bahwa tujuan mereka kuliah adalah untuk mencari relasi dan teman yakni sebesar 66 persen dan 64 persen, dua hal penting setelah mencari ilmu yang dipilih mahasiswa sebesar 98 persen.

Menurutnya, dalam jajak pendapat ini juga menjadi tolok ukur bagaimana mahasiswa baru mendapatkan kesempatan yang sama terutama dalam memulai kehidupan baru mereka di perkuliahan. Sarana temoat tinggal menjadi sangat penting terutama mendapatkan kos-kosan yang pas dan sesuai harapan.

Untuk lokasi tinggal sementara atau kos sebanyak 98 persen mahasiswa baru akan memilih tinggal di lingkungan kos-kosan yang tidak jauh dari kampus mereka untuk menentukan waktu tempuh ke kampus. Jarak kos yang banyak dipilih mahasiswa ini tersebar di range kurang dari 5 kilometer hingga dibawah 15 kilometer. Sementara terdapat mahasiswa yang memilih jauh dari lingkungan kampus karena memiliki kendaraan pribadi serta ingin suasana berbeda.

Sementara ada 88 persen yang memilih faktor kemudahan dalam mencari tempat makan, 52 persen dekat dengan tempat ibadah. Sebanyak 49 persen memilih dekat dengan sarana dan prasarana seperti warnet dan hanya 11 persen memilih kost yang dekat titik atau spot untuk hang-out seperti kafe, sementara 5 persen sisanya memilih kost dekat mall.

”Kos kosan dipilih yang memiliki pengawasan dari pemilik kos dan ada pemisahan untuk kos laki-laki dan perempuan,” jelasnya.

Aktivitas mahasiswa sebagian besar digunakan untuk kegiatan belajar sekitar 5-7 jam dan kegiatan organisasi, aktivitas UKM, serta kegiatan lain diluar kampus untuk mengerjakan tugas sekitar 1-3 jam per hari. Sementara sebagian mahasiswa memiliki kegiatan untuk rileks dan hangout sekitar 1-3 jam.

”Browsing internet dan buku, juga menjadi acuan para mahasiswa dalam mencari literature,” terangnya.

Sebanyak 74 persen mahasiswa berharap setelah lulus langsung memilih bekerja dan 15 persen melanjutkan jenjang S2. Namun hanya 3 persen yang ingin kembali ke kampung halaman.

Menurut Sri Mona, dalam jajak pendapat ini juga menjadi tolok ukur bagaimana mahasiswa baru mendapatkan kesempatan yang sama terutama dalam memulai kehidupan baru mereka di perkuliahan. Sarana temoat tinggal menjadi sangat penting terutama mendapatkan kos-kosan yang pas dan sesuai harapan. (ila)