Ingin Angkat Kembali Pamor Stagen
SLEMAN – Ada suasana berbeda di kompleks Candi Banyunibo, Prambanan, Sleman Minggu (7/10). Sebanyak 101 anak dari Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dhuafa Muhammadiyah Prambanan tak peduli dengan terik matahari. Mereka tetap bersemangat berdiri dengan mengangkat kain berwarna oranye sepanjang 1.016 meter. Membentuk formasi 102. Itulah pemecahan rekor dunia kain stagen terpanjang di dunia.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih, rekor stagen terpanjang bukan menjadi fokus utama. Yang ingin dia perjuangkan adalah mengangkat kembali pamor stagen. Sebab, keberadaan salah satu kain tradisional Jawa saat ini mulai terpinggirkan.

”Sehingga bukan hanya sektor budaya saja, tapi juga sektor ekonomi,” ujarnya di sela pemecahan rekor stagen terpanjang.

Dalam perjalanannya, Sudarningsih melihat, stagen berkembang. Di tangan penenun asal Sleman barat, kain stagen dikombinasikan menjadi berbagai kerajinan. Seperti tas, dompet, dan baju. Tidak lagi sebatas sebagai sabuk yang biasa digunakan perempuan Jawa.

Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) berharap pemecahan rekor akan mengangkat usaha mikro kecil dan menengah. Terutama UMKM perajin stagen di Sleman barat. Apalagi, selera pasar belakangan ini cenderung ingin kembali ke masa lalu. ”Dengan geliat perdagangan online, usaha stagen bisa terangkat kembali,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, kain stagen sepanjang 1.016 meter dilelang. Nilainya Rp 100 ribu per lima meter. Hasil lelang didonasikan untuk korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. (har/zam/er/mo2)