PURWOREJO – Layanan kesehatan ibu dan anak di tingkat desa/kelurahan mendapat penanganan dari bidan desa. Sebagian besar wilayah telah memiliki bidan desa walaupun ada dua desa yang memiliki satu bidan secara bersama.

Keberadaan mereka cukup vital sebagai kepanjangan tangan Dinas Kesehatan di tingkat desa. Pihak kabupaten sendiri telah mendistribusi bidan lengkap dengan peralatan yang diperlukan.

Kelanjutan dari keberadaan bidan desa itu, tidak bisa dilepaskan dari campur tangan pemerintah desa. Ke depan diharapkan desa akan semakin peduli dan bisa menganggarkan secara khusus beberapa kebutuhan pendukung yang diperlukan.

“Dari 494 desa/kelurahan di Purworejo, tercatat ada 341 bidan,” kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Purworejo dr Sudarmi Minggu (7/10).

Memang tidak seluruh bidan berstatus pegawai negeri sipil. Dalam catatan, mereka yang PNS ada 314 orang dan sisanya atau 27 orang merupakan pegawai tidak tetap.

“Mereka yang tidak PNS karena terbentur usia saat ada pengangkatan. Namun kami jamin, layanan dari PTT ini tetap optimal dan tidak ada bedanya dengan yang PNS,” tambah Sudarmi.

Secara keseluruhan bidan yang ada di desa/kelurahan memiliki kemampuan mumpuni di bidangnya. Dia meminta agar keberadaan bidan itu dioptimalkan, baik oleh masyarakat ataupun perangkat desa.

Lebih jauh Sudarmi menyampaikan, bidan-bidan desa telah dicukupi kebutuhan untuk mendukung kerjanya. Dan seluruh desa juga telah menyiapkan polindes untuk pelaksanaan praktik.

“Yang perlu dipahami sekarang adalah layanan dari bidan itu sendiri. Ke depan desa diharapkan berperan aktif. Jadi kebutuhan para bidan harusnya juga didukung dari desa,” tambah Sudarmi.

Diungkapkan, tugas para bidan sekarang tidaklah mudah. Selain bertanggungjawab terhadap kesehatan ibu dan anak, bidan menjadi motor dari program-program kesehatan. Apalagi fenomena jenis penyakit sekarang ini lebih banyak ke penyakit tidak menular. (udi/laz/zl/mo2)