GUNUNGKIDUL – Kesehatan ratusan siswa dari dua sekolah dasar (SD) di wilayah Desa Gading, Playen, Gunungkidul terancam. Tak kurang 261 siswa berpotensi terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) lantaran setiap hari menghirup udara berdebu selama dua bulan terakhir.

Mereka adalah siswa-siswi SD Asri dan SD Kanisius Beji Gading IV. Kondisi serupa juga dialami para guru di dua sekolah tersebut. Itu akibat proyek pembangunan jalan alternatif di dekat sekolah. Lokasi gedung sekolah tepat di pinggir jalan itu.

Udara kotor juga mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) di dua sekolah dasar (SD) itu. Demikian pula suara bising alat-alat berat untuk membangun jalan alternatif penghubung wilayah Ngalang-Gading itu.

“Kami terserang batuk, terutama anak-anak. Silakan lihat, ruangan kelas kotor karena diselimuti debu,” keluh Kepala Sekolah SD Asri Sunandarya kemarin (5/10).

Sunandarya mengaku telah menyampaikan keluhannya ke Desa Pendidikan Gunungkidul. Bersama anggota komite sekolah dia mengadukan dampak negatif pengerjaan proyek jalur alternatif.

Ada dua hal yang menjadi keluhan Sunandarya. Selain udara berdebu masuk ke ruangan kelas, juga tentang ketidakjelasan kompensasi atas pembebasan sebagian lahan sekolah. Menurut Sunandarya, sampai saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan pagar sekolah senilai Rp 43 juta yang dibongkar untuk sarana pendukung jalan.

“Kami sudah mengadu. Tapi hingga pagi ini (kemarin) debu masih beterbangan,” sesalnya.

Sejauh ini pihak sekolah hanya bisa memberikan masker bagi anak-anak. Itu guna meminimalisasi dampak udara kotor bagi kesehatan paru-paru 172 siswanya.

“Namanya anak-anak, terkadang (masker, Red) lupa dibawa pulang dan tidak dikenakan lagi. Begitu seterusnya setiap hari,” ungkapnya.

Sunandaya berharap, masalah debu yang mengganggu KBM di sekolahnya segera direspons positif oleh pihak-pihak terkait. Setidaknya dengan penyiraman rutin di sepanjang jalan, supaya debu tidak beterbangan karena terbawa angin.

Masalah tersebut tak urung menuai kekhawatiran para orang tua siswa. Suharno, salah satunya. Jika penyelesaian masalah itu menunggu proyek rampung, berarti gangguan KBM yang harus dialami para siswa lebih lama lagi.

“Ini masalah serius. Bukan hanya menyangkut kesehatan, konsentrasi belajar anak juga terganggu,” tegasnya.

Yusnita, guru SD Kanisius Beji menyampaikan hal senada. Ada 89 anak didiknya terpaksa menghirup udara berdebu setiap hari. Menurutnya, manajemen sekolah tak bisa berbuat banyak kecuali mengeluhkan keadaan itu.

“Sekolah kami nyaris tidak ada batas dengan lokasi proyek. Debu masuk ke ruangan kelas, udara terasa apek, mau bernapas terganggu. Anak-anak juga terserang batuk,” ungkapnya.

Terpisah, Kasi Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPR) Gunungkidul Wadiyana menyatakan, pembangunan jalan alternatif di Gading, Playen merupakan proyek Pemprov DIJ.

“Kami juga ada pengawas lapangan. Nanti segera disikapi,” janjinya.
Pada bagian lain, Kabid Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, ISPA menjadi momok paling serius bagi masyarakat saat musim pancaroba seperti sekarang. Suhu tinggi sebagai dampak peralihan musim ditengarai menjadi penyebab cepatnya perkembangbiakan bakteri. Meningkatnya kuantitas debu juga mempercepat potensi ISPA.

“ISPA termasuk penyakit menular. Minimalisasi penularannya dengan masker,” imbaunya. (gun/cr5/yog)