Di balik mudahnya berkomunikasi saat ini, ada wartel (warung telekomunikasi) yang pernah mengalami masa kejayaan. Beragam ekspresi pernah tumpah di dalam bilik berukuran mini. Seperti berbagai kenangan yang terekam di dalam boks Wartel Lestari.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

KOTAK berukuran sekitar 50 sentimeter dengan tinggi 2 meter di sebuah warung kelontong di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman penuh dengan kenangan. Dulu, benda yang ada di dalam kotak kaca itu pada masa keemasannya pernah menjadi barang yang paling ”diburu”.

Mulai anak baru gede yang dirundung kasmaran, mahasiswa yang kehabisan uang saku, hingga orang yang hidup jauh dari sanak saudara. Sebab, suara yang terdengar dari ujung gagang piranti di dalam boks itu bisa menjadi seperti obat mujarab. Menjadi Obat penawar rindu hingga pengobat kegalauan. Ya, itulah Wartel Lestari.

Di era handphone masih menjadi barang mahal, persisnya pada 2000-an, Reswanti, pemilik Wartel Lestari masih ingat dengan ragam ekspresi pengguna wartel. Saat mereka keluar dari bilik untuk membayar. Mulai ekspresi bahagia, kecewa, sedih, hingga marah.

”Bahkan ada juga yang telepon sambil menangis,” kenang Reswanti melihat ekspresi pelanggannya itu dari balik kaca boks yang transparan.

Tak jarang pula siswa sebuah sekolah dasar memanfaatkan Wartel Lestari. Maklum, wartel ini tak jauh dari sebuah sekolah dasar. Mereka menelepon keluarganya sekadar untuk memberitahu bahwa jam belajar telah selesai.

”Minta untuk dijemput,” tutur Reswanti saat ditemui di warung kelontongnya kemarin (4/10).

Perempuan berusia 35 tahun ini tak begitu hapal dengan seluruh tarif telepon. Yang masih dia ingat adalah tarif lokal Rp 300 per menit.
”Karena sudah lama sekali,” ucapnya terkekeh.

Sekilas, wartel ini masih beroperasi. Stiker dengan logo khas provider masih tertempel di pintu bilik. Begitu pula dengan tulisan berbagai layanannya. Mulai lokal, interlokal, hingga SLI (sambungan langsung internasional). Namun, jika menilik ke dalam boks, pesawat dengan gagang teleponnya sudah tidak ada. Kini, boks berdebu itu hanya difungsikan sebagai etalase.

”Tutup di tahun 2011 kalau tidak salah,” ujar Reswanti menyebut bahwa wartel tutup karena terdampak perkembangan teknologi komunikasi.

Perempuan yang saat diwawancarai menggunakan kaos oblong warna hitam itu tak menduga bahwa bisnis wartel bakal gulung tikar. Kendati begitu, Reswanti merasa tak begitu terpengaruh. Dia tak sekadar menyediakan jasa telepon. Melainkan juga menjual aneka dagangan.
”Ada juga rokok, cemilan, dan minuman,” ucapnya.

Wanti, sapaannya, bercerita bahwa wartelnya buka dari pukul 06.00 pagi hingga 09.00 malam. Banyak juga yang telepon hingga lebih dari jam 09.00 malam.

Cerita apa lagi yang masih berkesan? Wanti menyebut biaya perawatan pesawat telepon cukup mahal. Apalagi, saat musim hujan datang. Pernah pesawat teleponnya tersambar petir setiap pekannya. ”Sekali servis Rp 300 ribu,” sebutnya.

Perempuan yang memiliki rambut berwarna hitam itu juga mengatakan beberapa tahun yang lalu alat-alat yang digunakan untuk wartelnya masih lengkap. Dari boks, pesawat telepon, alat untuk memprogram hingga mesin printer tarif. Sayang semua itu kini telah menjadi rongsokan.

“Kalau teleponnya sudah rusak malah buat mainan anak,” kata dia dengan raut muka penuh penyesalan.

Remaja saat ini tidak akan bisa lagi merasakan bagaimana susahnya berkomunikasi. Pun ketika menghubungi kekasih. Kini, semua serba mudah. Dunia dalam genggaman. (zam)