GUNUNGKIDUL – Musim penghujan diprediksi baru bisa turun merata November mendatang. Akan tetapi anggaran penanggulangan kekeringan di Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah menipis.

“Total dana penanggulangan kekeringan Rp 640 juta. Sudah terpakai Rp 500 juta,” kata Kepala BPBD Gunungkidul Edy Basuki kemarin (3/10).

Dana tersebut cepat tersedot karena kebutuhan droping air juga meningkat. Selain itu pihaknya juga harus memikirkan kesiapan armada. Mulai dari ganti spare part dan kebutuhan di lapangan.

“Sampai sekarang kami masih melakukan droping air ke daerah yang terkena dampak kekeringan,” ujarnya.

Menurutnya, total warga terdampak kekeringan 117.116 jiwa. Mulai dari Kecamatan Girisubo 8 desa, 68 padukuhan, 4.572 kepala keluarga (KK) dan 19.693 jiwa. Nglipar 6 desa, 26 padukuhan, 1.853 KK, 5.637 jiwa. Paliyan 6 desa, 37 padukuham, 6.014 KK, dan 2.0769 jiwa. Panggang 6 desa 31 padukuhan, 1.232 KK, 4.677 jiwa. Purwosari 2 desa, 6 padukuhan, 912 KK, 3.390 jiwa.
Rongkop 7 desa, 43 padukuhan, 3.820 KK, 11.800 jiwa. Tanjungsari 2 desa, 22 padukuhan, 3.100 KK, 1.1186 jiwa, Tepus 5 desa, 73 padukuhan, 8.232 KK, 32.851 jiwa. Ngawen 5 desa, 17 padukuhan. Ponjong 6 desa, 16 padukuhan, 766 KK, 2.765 jiwa. Gedangsari 1 desa, 10 padukuhan, 1.106 KK, 3.448 jiwa. Patuk. Saptosari 1 desa, tiga padukuhan, 200 KK, 900 jiwa.

“Ada tambahan daerah terdampak kekeringan yaitu di Candirejo Kecamatan Semin,’’ terangnya.

Disinggung mengenai menipisnya anggaran penanggulangan kekeringan, menurutnya akan disusulkan melalui dana tak terduga. Dia memperhitungkan anggaran dropping cukup hingga bulan ini saja.

Camat Gedangsari Imam Santoso mengatakan, dari 7 desa di wilayahnya hampir semua mengalami kekeringan. Namun begitu distribusi tergantung permintaan. Pihaknya terus berupaya memberikan bantuan kepada warga.

“Tidak hanya dari kecamatan dan BPBD tetapi berupaya mencari bantuan dari pihak swasta,” kata Imam Santoso. (gun/din)