GUNUNGKIDUL – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ternyata justru berdampak positif pada komoditas khas Gunungkidul. Meroketnya kurs dolar hingga mendekati Rp 15 ribu per dolar AS menjadi angin segar bagi petani gaplek (ubi kayu kering. Meski tingkat produksinya menurun, harga gaplek meroket menjadi Rp 3.500 per kilogram.

“Ini capaian termahal sepanjang sejarah,” ujar Kabid Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Gunungkidul Raharja Yuwono kemarin (30/9).

Pernyataan Raharja bukan tanpa alasan. Sebab, selama ini harga gaplek tak pernah lebih dari Rp 3.000 per kilogram. Mentok hanya mencapai Rp 2.500 per kilogram. Fluktuasi harga gaplek sangat dipengaruhi oleh cuaca. Pada 2017 hujan turun pada September-Oktober turut mempengaruhi hasil produksi dan kualitas gaplek. Demikian pula tahun ini.

Data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunungkidul menunjukkan, pada 2017 produksi ubi kayu mencapai 924,751 ton dengan luas panen 49.478 hektare. Sementara hingga Desember tahun ini tingkat produksinya diprediksi menurun lagi. Diperkirakan hanya mencapai 780.307 ton. Atau mengalami penurunan sekitar 15 persen.

Raharja menyatakan belum bisa menyampaikan data terkini produksi ubi kayu karena masih dalam penghitungan di lapangan. Hanya, dari perhitungan kasar sampai saat ini terjadi penurunan produksi hingga 25 persen dibanding tahun lalu para periode yang sama.

“Kondisi cuaca kurang mendukung. Karena Mei sudah terjadi kemarau, sehingga hujan berhenti. Akibatnya, pengisian umbi kurang sempurna,” jelasnya.

Selain itu, kecenderungan monokultur padi dan palawija di beberapa kecamatan juga mengurangi luas tanam dan panen ubi kayu.

Kendati demikian, lanjut Raharja, Gunungkidul tetap menjadi gudangnya ubi kayu se- DIJ. Tingkat produksinya mencapai 98 persen dibanding wilayah lain. Itu yang membuat Gunungkidul disebut sebagai Kota Gaplek, sekaligus menjadi salah satu sentra pangan dan palawija nasional.

Andi Wijaya, pengepul gaplek asal Mijahan, Semanu, mengungkapkan, petani ubi kayu biasanya menjual hasil panen secara gelondongan. Masih berupa ubi kayu kering, tanpa diolah lebih dulu. Harga jualnya pun sangat variatif, tergantung kondisi pasar dan hasil panen. Berkisar Rp 500 hingga Rp 2.500 per kilogram.

“Baru tahun ini gaplek naik daun,” kata Andi bernada bahagia.

Menurut Andi, Rp 3.500 per kilogram itu harga dari tingkat petani sampai pabrik pengolahan gaplek di Surabaya. Sejauh ini gaplek Gunungkidul memang lebih banyak “dilarikan” ke Kota Pahlawan. Diangkut menggunakan truk kontainer. Sedangkan harga di pasaran Gunungkidul Rp 3.200 per kilogram.

Menurut Andi, zona selatan Gunungkidul merupakan wilayah penghasil ubi kayu terbesar di DIJ, bahkan di Indonesia. Namun, produksi ubi kayu saat ini malah menurun. Padahal, cuaca panas memudahkan petani mengeringkan ubi kayu, sehingga menghasilkan gaplek kualitas bagus. Jika kondisi udara lembab, kata Andi, kualitas gaplek menurun, yang ditandai dengan warna kehitam-hitaman. Andi mengaku tak tahu penyebab menurunnya produksi ubi kayu tahun ini.

“Padahal harganya sedang bagus-bagusnya,” sesal Andi.
Dibagian lain, Ranto Wiyatno, petani di Desa Putat, Patuk, mengaku sengaja tidak menjual gaplek karena untuk dikonsumsi sendiri. Itu lantaran hasil panen di dua petak lahan miliknya tak terlalu banyak. (gun/yog)