JOGJA – Perusahaan asuransi jiwa Cigna Indonesia membagikan tangan
prostetik atau tangan palsu fungsional LN-4 pada penyandang disabilitas di tiga daerah. Pembagian tangan prostetik tersebut gratis bagi para penyandang disabilitas di Tangerang, Lombok, dan DIJ.

Tahap pertama, 66 tangan palsu diberikan langsung pada masyarakat yang membutuhkan.

Presiden Direktur Cigna Indonesia Herlin Susanto mengatakan mendapat alokasi dua ribu tangan prostetik dari kantor pusat Cigna di Amerika Serikat.

“Kemudian kami bagikan ke masyarakat yang membutuhkan. Setelah tiga daerah ini, kami lanjutkan ke kota-kota lain seperti Solo dan Bandung. Kami membuka diri untuk yayasan-yayasan lain untuk ikut bekerja sama,” kata Herlin di sela pelatihan tangan prostetik di Bantul kemarin (30/9).

Pada pelatihan tersebut, Herlin menyerahkan 37 unit tangan prostetik LN-4 pada penyandang disabilitas dari DIJ dan Jawa Tengah. Para penyandang disabilitas itu terpilih dari Yayasan Fofindis di Sidomulyo Bantul. Tangan prostetik LN-4 merupakan perangkat tangan bantu yang dipasang di bawah siku tangan. Tangan palsu ini tahan terhadap air, panas, kotoran, dan garam, serta mudah dibersihkan hanya dengan menggunakan air bersih.

“Dengan LN-4, para penyandang disabilitas yang tidak memiliki tangan, bisa menggunakannya untuk menggenggam cangkir, memegang alat tulis, alat lukis, dan aktivitas lainnya,” kata dia.

Tangan tersebut bisa digunakan untuk mengangkat beban hingga 12 kilogram. Tangan palsu tersediaberkat kolaborasi Cigna Indonesia dengan Cigna Global dan Ellen Meadows Prosthetic Hand Foundation, organisasi nirlaba yang telah mendistribusikan lebih dari 48 ribu tangan prostetik LN-4 secara gratis sejak 2005 di 84 negara.

“Dalam proses seleksi dan distribusi tangan palsu di Indonesia, Cigna bekerja sama dengan Yayasan Visi Maha Karya di Tangerang, Yayasan Endri di Lombok, dan Yayasan Fofindis di Jogjakarta,” katanya.

Ke depan Cigna akan melakukan pendekatan dengan Kementerian Sosial agar mendukung program bantuan itu. Termasuk berharap ada keringanan dari Bea dan Cukai untuk mengimpor tangan tersebut. Saat ini produk tangan palsu yang nilainya sekitar US$ 300 per unit ini masih masuk kategori barang impor dengan nilai bea masuk cukup besar.
Salah seorang penyandang disabilitas, Kasihan warga Srumbung Magelang yang mengaku sejak lahir tidak memiliki pergelangan tangan mengungkapkan, tangan fungsional tersebut diharapkan membantunya mengendarai sepeda motor atau mobil.

“Kami berharap lebih mudah. Selama ini saya hanya menggunakan satu tangan. Tangan palsu sebelumnya hanya aksesori. Jadi tidak bisa dipakai untuk beraktivitas,” ungkap pria berusia 42 tahun itu.

Ketua Yayasan Fofindis Andre Angling Asmoro mengaku bersyukur diajak bekerja sama dengan Cigna Indonesia. “Kami melihat Cigna memiliki kepedulian yang tinggi bagi masyarakat yang berkebutuhan khusus. Ada program memberian tangan prostetik ini dan kami membuka diri untuk ikut serta,” papar Andre. (*/pra)