GUNUNGKIDUL – Seluruh operator di Gua Pindul melunak. Para operator wisata yang dulunya keukeuh menolak pembayaran pajak hiburan kepada pemkab akhirnya bersedia.

Kendati begitu, respons positif pengelola ini masih menyisakan persoalan. Tiket masuk objek wisata (obwis) alam susur gua bawah yang dipatok antaroperator belum seragam.

Kepala Bidang Penagihan dan Pengawasan Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul Mugiyono mengungkapkan bahwa pengambilan kesepakatan mengenai pajak hiburan bagi operator obwis yang terletak di Desa Bejiharjo, Karangmojo, itu bukan perkara gampang. Saking alotnya, BKAD setidaknya butuh menggelar sosialisasi Perda No. 6/2017 tentang Kawasan Pajak Hiburan hingga lima kali. Dalam sosialisasi kelima inilah para operator mulai bersedia.

”Sosialisasi kelima kami gelar dua hari lalu. Ada sebelas operator dan BUMDes yang hadir,” jelas Mugiyono saat dihubungi kemarin (21/9).

Dengan sikap positif operator ini, Mugiyono menegaskan bahwa pemungutan pajak hiburan bakal diterapkan paling lambat mulai awal Januari 2019. Besarnya sepuluh persen dari tiket masuk. Praktis operator mulai tahun depan tidak hanya membayar pajak. Melainkan juga retribusi.

”Retribusi sudah berjalan lama. Besarannya Rp 10 ribu per tiket,” sebutnya.

Sebagaimana diketahui, operator obwis Gua Pindul menerapkan tarif tiket masuk berbeda. Ada yang mematok Rp 25 ribu per orang. Sebagian memungut tiket masuk Rp 40 ribu per orang. Nah, BKAD bakal menyeragamkannya. Caranya dengan melibatkan BUMDes plus semua operator.

”Ketika tarif sudah seragam, tidak ada lagi kecemburuan antaroperator,” harapnya.

Plt Kepala BKAD Gunungkidul Sudodo apresiatif dengan respons seluruh operator. Sinyal positif operator ini seolah melengkapi langkah pengelola obwis lainnya. Pengelola Gua Jomblang dan Kalisuci lebih dulu bersedia membayar pajak.

”Pemerintah nanti hadir dengan memberikan perlindungan. Jika ada penyerobotan tanah, menjadi tugas dan kewajiban pemerintah untuk melindungi,” tegas bekas kepala disdikpora ini.

Kendati bakal mengurangi pendapatan, operator obwis Gua Pindul tak keberatan dengan membayar pajak. Namun, operator butuh waktu untuk merealisasikannya. Toh, tarif antaroperator masih berbeda.

”Sarannya, semua pengelola harus punya persepsi yang sama soal penyeragaman tarif,” Aris, seorang operator. (gun/zam)