SLEMAN – Sebagian wilayah DIJ mulai diguyur hujan sejak tiga hari terakhir. Kepala Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIJ Agus Sudaryatno menjelaskan, gejala alam tersebut menunjukkan beralihnya musim kemarau ke penghujan.
Agus mengingatkan masyarakat akan kondisi Gunung Merapi yang sedang aktif membentuk kubah lava baru. Hujan deras yang mengguyur kawasan puncak berpotensi menyebabkan lahar hujan.

“Ini perlu diwaspadai sejak dini saat puncak pancaroba hingga musim hujan nanti,” ingatnya kemarin (20/9).

Menjauhi pohon-pohon besar ketika hujan deras juga menjadi pilihan logis demi keselamatan. Selain berpotensi roboh karena angin kencang, menurut Agus, batang pohon memiliki sifat sebagai penghantar listrik berbahaya jika tersambar petir.

Agus mengimbau pemerintah daerah segera menebangi pohon-pohon berusia tua dan rawan tumbang. Juga menertibkan baliho. Dan membersihkan endapan sungai dan selokan demi mencegah banjir.

Wilayah perbukitan juga harus diperhatikan. Lereng terjal di Kulonprogo, Prambanan, dan Gunungkidul rawan longsor. Pun demikian kawasan lereng Gunung Merapi.

Musim hujan diprediksi mulai November mendatang. Dikatakan, musim hujan memasuki wilayah DIJ dalam tiga fase.

Dimulai sepuluh hari pertama pada November di wilayah utara DIJ. ini lantaran kondisi klimatologis wilayah utara DIJ lebih lembab dibanding selatan.

“Atmosfernya lebih lembab, sehingga musim hujan masuk lebih awal,” jelasnya.
Wilayah tengah dan barat sedikit ke selatan bakal diguyur hujan pada pertengahan November. Terakhir wilayah timur dan selatan DIJ, khususnya Gunungkidul. Sebaliknya, musim kemarau selalu datang lebih awal di Bumi Handayani.

Agus membenarkan jika September ini langit mulai sering mendung dan turun hujan. Berdasarkan kriteria BMKG, gejala alam tersebut masuk pancaroba. “Hujan di beberapa lokasi dengan durasi pendek. Jika hujan makin deras biasanya rawan disertai angin kencang,” ingatnya.

Hujan yang belum juga turun di wilayah Gunungkidul kian memberatkan beban warga terdampak kekeringan. Termasuk para petani dan peternak sapi.
Guna meringankan penderitaan warga, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul membangun pompa pengairan. Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, air pompa bisa dimanfaatkan untuk pertanian.

“Sementara ini kami fokus di sentra pengembangan ternak sapi dan kambing. Salah satunya di Pengkol, Nglipar,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Bambang Wisnubroto.

Pembangunan pompa sekaligus untuk mendukung program upaya khusus percepatan populasi sapi dan kerbau bunting (upsus siwab) Kementerian Pertanian RI. Adapun jaringan dari rumah pompa diperkirakan bisa mengairi lahan seluas 2 hektare untuk ditanami rumput. Program ini menelan dana sekitar Rp 74 juta. “Ada juga swadaya masyarakat,” katanya.

Ketua Kelompok Lembu Seto Pengkol, Nglipar, Sumarno mengatakan, adanya pompa air menjadi harapan besar bagi petani untuk mendapat pakan ternak lebih baik. “Selama kemarau kami kesulitan cari pakan,” ungkapnya. Sumarno berharap, bantuan pompa air bisa berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan ekonomi para peternak. (tif/gun/yog)