SLEMAN – Menjadi bakal calon legislatif (Bacaleg) bagi Suryatiningsih Budi Lestari adalah salah satu cara agar para penyandang disabilitas memperoleh hak yang sama. Di samping itu, citra negatif anggota dewan menggerakkan hati perempuan 56 tahun tersebut untuk melakukan perubahan.

Keresahan-keresahan itulah yang mendorong Nuning, sapaan akrab Suryatiningsih, mengajukan diri sebagai bacaleg. Bacaleg dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini maju untuk DPRD DIJ dari Dapil 5 meliputi Gamping, Godean, Moyudan, Minggir, Sayegan, Mlati, Depok, dan Berbah.

Sementara itu, citra PSI sebagai partai baru dan antikorupsi membuat Nuning kian yakin untuk maju dalam bursa Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. “Saya mempunyai harapan besar dengan partai ini,” ujar Nuning.

Komitmen PSI untuk melibatkan peran seluruh lapisan masyarakat juga menjadi alasannya memilih partai ini. “Dengan kondisi saya sebagai penyandang disabilitas, PSI memberi peran sesuai kemampuan saya,” ungkapnya.

Masyarakat yang lebih terbuka atau inklusi menjadi salah satu visi dan misi yang hendak Nuning capai. Dia ingin masyarakat penyandang disabilitas bisa mendapatkan kesetaraan dan keadilan hak. Nuning mengungkapkan, sebagian besar penyandang disabilitas adalah warga miskin.

“Beberapa penyandang disabilitas butuh terapi. Kalau biaya tidak ditopang negara, lalu siapa lagi?,” ujarnya.

Kesejahteraan dan kesehatan masyarakat khususnya penyandang disabilitas menjadi perhatian utama bagi Nuning. “Karena saya mengalami sendiri dan tahu tentang persoalan yang ada,” tuturnya.

Dia ingin membantu masyarakat berkebutuhan khusus untuk bangkit dan bisa menata hidupnya. Kelak dalam berkampanye, Nuning ingin semua lapisan masyarakat lebih peka dan perhatian pada penyandang disabilitas.

“Jangan sampai masih ada diskriminasi, termasuk dalam menetapkan kebijakan,” ujar perempuan yang pernah bekerja sepuluh tahun di KPU ini.

Rekan-rekannya di KPU sempat terkejut dengan keputusan Nuning. Kendati demikian, baginya ini adalah kesempatan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat khususnya perempuan dan penyandang disabilitas. Keluarga Nuning, terlebih sang anak, mendukung penuh pilihan sang ibu terjun di bidang politik meski ini untuk kali pertama. (cr9/ila)