SLEMAN – Menjadi bakal calon legislatif (Bacaleg) bagi Sylvi Dewajani, 47, merupakan salah satu cara untuk mewujudkan harapannya. Keresahanannya pada aspek pendidikan karakter dan kondisi psikologis generasi dan masyarakat mendorongnya untuk maju sebagai Bacaleg Daerah Pemilihan (Dapil) VI Sleman B DPRD Provinsi.

Sylvi ingin Jogjakarta menjadi sebuah provinsi yang berbeda dari yang lain. “Saya ingin provinsi ini bisa mencetak dan menghasilkan generasi yang berkarakter melaui kolaborasi kompak dari ketiga institusi penting (keluarga, sekolah, dan masyarakat),” ujar perempuan yang bertempat tinggal di Ngaglik, Sleman ini.

Untuk mewujudkan hal tersebut Sylvi berpikir butuh adanya tatanan yang kosisten dan saling terkait antara tiga institusi tersebut. Kekompakan ketiga institusi tersebut diyakini Sylvi mampu membentuk generasi yang kuat. Oleh karenanya diperlukan sebuah tatanan dan regulasi yang dapat menyerampakkan ketigannya.

Keyakinan itu pula yang mendorong Sylvi untuk bergabung bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dia merasa partai baru ini bersih, antikorupsi, antiradikalisme, dan bersolidaritas. “PSI mempunyai DNA yang sama dengan saya,” ucapnya.

Baginya, PSI adalah “kendaraan” yang tepat untuk terjun dan berkecimpung di dunia politik. Sylvi bahkan berani banting setir setelah dua puluh tahun mengabdi sebagai dosen di Fakultas Psikologi UGM.

“Keinginan untuk menjadi calon legislatif pernah muncul. Tapi saya belum menemukan kendaraan yang pas.Dan saat ini,saya rasa PSI adalah kendaraan yang sangat tepat-,” jelas ibu satu anak ini.

Kendati demikian, pengalamannya di bidang pendidikan menjadi modal untuk membangun visi dan misi. Di matanya, Jogjakarta adalah wilayah yang spesial. Citra Jogja sebagai Kota Pelajar harus menjadi peluang untuk menyelaraskan regulasi ketiga institusi.

“Anggota dewan seharusnya bisa bermain cantik di situ,” kata Sylvi.

Dia ingin merancang regulasi yang bisa mengompakkan ketiga institusi, bukan justru membatasi,ataupun membingungkan bagi ketiganya.Namun, Sylvi menambahkan regulasi tersebut juga harus diikuti usaha nyata.

Perempuan yang baru kali pertama ini terjun di dunia politik ini mengaku tak ingin memasang spanduk dan baliho untuk kampanyenya. Di sisi lain, dia akan meluncurkan tiga buku. Ketiga buku tersebut nantinya akan mengulas masalah parenting, komunikasi anak dan orang tua, serta personal strategic branding and planning untuk kaum milenial.

Dari buku-buku yang ditulisnya itu Sylvi berharap masyarakat bisa lebih mengenal pribadi dan pemikirannya. Keputusan besarnya ini telah didukung oleh sang suami. (cr9/ila)