GUNUNGKIDUL – Kekeringan masih melanda kawasan perbukitan Gunungkidul. Mahalnya harga air swasta membuat warga Padukuhan Baturturu, Mertelu, Gedangsari pusing tujuh keliling. Warga mulai merasa berat jika harus mengeluarkan dana Rp 350 ribu untuk mendapatkan satu tangki air bersih.

Sementara bantuan droping air Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul tak mampu menjangkau kawasan perbukitan karena medan yang berbahaya. Warga perbukitan harus jalan menuruni tebing untuk mengakses bantuan air.

“Saat ini kami hanya bisa mengandalkan air dari bekas sumur bur. Kami mengaisnya,” ungkap Pariman,55, warga Baturturu, kemarin (14/9).

Apa yang dilakukan Pariman membutuhkan kesabaran ekstra. Untuk memenuhi jeriken kapasitas 10 liter saja butuh waktu lebih dari setengah jam. Itu terpaksa dilakoni Pariman setiap hari demi memenuhi kebutuhan air untuk keluarganya. Dia tak mampu beli air dari tangki swasta karena penghasilannya sebagai buruh tani tak menentu.

Selama ini sumur bur tidak berfungsi karena debit air sangat kecil. Air tak bisa naik. Dari kubangan bekas sumur bur itulah Pariman dan warga lainnya mengais air menggunakan botol.

Caranya, botol diikat dengan tali lalu dimasukkan ke dalam lubang dengan kedalaman sekitar 30 senti meter menggunakan alat bantu bambu. Agar botol bisa tenggelam. Kemudian didiamkan  sejenak dan ditarik ke atas. Air ini khusus untuk memasak dan minum. Sementara untuk mencuci dan mandi Pariman harus mencari sumber air di tengah sawah. “Jalannya agak jauh, tapi mau bagaimana,” ucapnya.

Tokoh masyarakat Desa Mertelu Tugiman mengaku sudah berupaya menjalankan program sarana air bersih (SAB). Hanya, hasilnya tak bisa maksimal lantaran terbentur masalah anggaran. “Kami berharap ada dukungan dari pemerintah atau pihak terkait,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki tidak menampik jika proses droping air di wilayah Desa Mertelu menjadi tantangan tersendiri. Selama ini tidak semua sopir berani dan mampu menapaki jalan menanjak dan cukup terjal. Serta berliku-liku. Menurut Edy, timnya telah menemukan sumber air yang diproyeksikan bisa mengatasi masalah kekeringan untuk jangka panjang.

“Untuk pengeboran kami kerja sama dengan pihak ketiga,” ujarnya.
Sampai saat ini wilayah terdampak kekeringan di Gunungkidul terdiri atas 54 desa. Tersebar di 12 Kecamatan.  Jumlah warga dampak kekeringan mencapai 117 ribu jiwa. (gun/yog)