MAGELANG – Kota Magelang boleh mengklaim sebagai kota sejuta bunga. Mereka kini ditantang menghasilkan produk florikultura, baik untuk pasar lokal maupun ekspor.

Tidak tanggung-tanggung, yang menantang adalah Direktur Buah dan Florikultur Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edi Wibowo saat hadir dalam pembukaan Agri-Flori Expo 2018 di Gedung A Yani Kota Magelang, kemarin.

“Semoga Pemkot Magelang mampu menghasilkan produk florikultura. Apalagi Kota Magelang memiliki julukan Kota Sejuta Bunga yang seharusnya memiliki basis produksi berbagai jenis bunga,” katanya.

Dijelaskan, Kementan memang mendorong setiap daerah mampu menghasilkan produk buah dan florikultura (tanaman berbunga dan hias) yang dapat diekspor. Sebab, pasar luar negeri masih sangat potensial untuk dijelajahi. Ia pun mengajak Pemkot Magelang untuk mulai menghasilkan produk florikultura yang menjadi komoditas ekspor.

“Contoh di Slawi, Tegal, setiap hari di satu kelompok petani mampu memproduksi 30 kg bunga melati dengan luasan lahan 1.500 hektare persegi. Sebanyak 20 kg di antaranya diambil eksporter untuk diekspor bersama hasil dari kelompok lain. Itu baru satu kelompok petani saja,” tuturnya.

Dia menuturkan, negara tujuan ekspor komoditas florikultura mayoritas di ASEAN dan sebagian Asia. Tidak sedikit pula yang sampai ke Belanda, Amerika Serikat, dan Australia dengan berbagai jenis tanaman berbunga dan hias. Pasar lokal pun potensial, seperti Jakarta dan Bandung.

Menanggapi tantangan itu, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito mengaku, inspirasi dari Kementerian Pertanian harus ditangkap. Bahkan ia memiliki angan-angan Kota Magelang seperti Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang berhasil mengembangkan florikultura.

“Usulan Pak Direktur (Sarwo Edi Wibowo) itu bagus, harus ditangkap. Hal ini sejalan dengan ikon yang kita miliki, yakni Kota Sejuta Bunga,” ujarnya.
Dia mengakui slogan Kota Sejuta Bunga justru ditangkap daerah sebelah (Kabupaten Magelang, Red) yang muncul beberapa taman bunga, seperti taman bunga matahari dan celosia. Bahkan, mampu menjadi destinasi wisata baru yang dengan cepat populer di masyarakat.

“Saya justru bangga dengan adanya taman bunga itu. Slogan Kota Sejuta Bunga itu bukan hanya untuk Kota Magelang saja, tapi Magelang secara keseluruhan,” ungkapnya.

Menurut Sigit, di Kota Magelang terus dikembangkan konsep pertanian perkotaan (urban farming) yang memanfaatkan pekarangan rumah. Termasuk mengembangkan kampung organik yang sudah menjalar di tiap kelurahan. (dem/laz)