SLEMAN – Jika tidak segera diantisipasi bisa jadi masyarakat Sleman hanya mengenal cengkih dari cerita orang tua atau di museum. Terancam punahnya cengkih karena semakin minimnya lahan juga minat warga menanam cengkih.

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Edi Sri Hartanto membenarkan hal tersebut. “Aduh, cengkih di Sleman hampir sudah tidak ada, sudah hampir punah,” ujar Edi kemarin (13/9).

Menurut dia, para petani di Sleman sudah sejak lama tidak menanam cengkih. Bahkan sejak zaman Orde baru lahan cengkih di Sleman sudah banyak yang beralih fungsi atau menanam komiditi lain.
“Kalau tidak salah dulu zaman Soeharto ada pengurangan cengkih besar-besaran,” ujarnya.

Padahal, lanjut Edi, dulu di beberapa wilayah di Sleman masih banyak petani menanam tanaman yang buah hingga rantingnya bisa dimanfaatkan semua itu. Dia menyebut dulu setidaknya di daerah Pakem, Turi dan Cangkringan banyak tumbuh subur cengkih.

Tapi dampak dari pengurangan lahan itu, kini para petani memilih komoditi lain. Kondisi itu membuat cengkih di Sleman sulit untuk bangkit lagi. Edi mencontohkan seperti di Turi, setelah pengurangan itu masyarakat mulai menanam salak.

“Akibatnya tanaman cengkih mulai terdesak hingga akhirnya hilang,” jelasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Glagaharjo Cangkringan Suroto juga mengamini pernyataan Edi. Dia mengatakan semenjak erupsi besar Merapi pada 2010 lalu, banyak tanaman cengkih yang mati.

Suroto menambahkan kendati jumlah tanaman cengkih di Glagaharjo sudah mulai berkurang, namun masih ada warganya yang menanam. Meski hanya segelintir. “Kemungkinan di dusun Glagahmalang pada mulai menanam,” bebernya.

Salah seorang warga Desa Glagaharjo, Suminten, 48, mengatakan jika dia masih memiliki beberapa pohon cengkih. Bahkan, beberapa minggu lalu dia baru saja melakukan panen. “Ini hanya punya tiga pohon dan hanya dapat seperempat kilo saja,” ujar perempuan yang berdomisili di dusun Banjarsari itu.

Karena hasil panen yang sedikit dia berniat untuk menyimpan dulu hasil panen itu. Mungkin, lanjut dia, tahun depan baru dijual ketika sudah menyentuh berat satu kilogram. “Ya kalau harga per kilonya mungkin bisa ratusan ribu,” katanya.

Suminten menjelaskan, dulu dia memiliki lebih dari sepuluh pohon cengkih. Namun, setelah 2010 banyak yang mati. Selain itu, beberapa tanaman cengkih juga ditanam di tanah milik desa dan atas seizin desa bisa digarap oleh keluarganya.

“Setelah 2010, lahan kami diambil oleh desa karena itu milik desa dan digunakan untuk membangun hunian tetap,” kenangnya.

Masa tanam yang lama juga turut menjadi salah satu alasan makin sedikitnya minat untuk menanam cengkih. Kini, dia beralih untuk menanam pisang Ambon yang perawatannya mudah dan hasilnya cepat. (har/pra)