BANTUL – Setelah bawang merah kini giliran cabai merah keriting mengalami penurunan harga. Meski di pasaran masih relatif tinggi, fluktuasi harga cabai merah keriting tak berpihak pada petani. Harga jual komoditas bumbu dapur berasa pedas ini tak lebih dari Rp 8 ribu per kilogram di tingkat petani.

Sementara di pasaran bisa mencapai Rp 25 ribu. “Keuntungan petani sangat tipis,” keluh Suwanti, petani cabai di Bulak Srigading, Samas, Sanden, Bantul Rabu (12/9).

Suwanti memaparkan, lahan cabai seluas 420 meter persegi miliknya menelan biaya produksi dan tenaga kerja sedikitnya Rp 2 juta. Dari perhitungan itu, petani baru merasa untung jika hasil panen dihargai minimal Rp 10 ribu per kilogram. Itu sudah lumayan. Karena modal yang kembali masih harus dibelanjakan untuk membeli bibit dan pupuk untuk masa tanam berikutnya.

Lahan cabai milik Suwanti ditanam sejak Mei lalu. Kondisi cuaca menyebabkan tanaman tak bisa dipanen tepat waktu. Panen baru bisa dilakukan dua bulan terakhir. Suwanti memetik cabai merah keritingnya empat hari sekali.

Pada awal panen, Suwanti bisa mendapatkan lebih dari satu kuintal. “Tapi kalau sudah masa panen berakhir seperti sekarang paling hanya dapat 30 kilogram,” ungkap warga Tegalrejo, Srigading, Sanden ini.

Dari pantauan Radar Jogja, harga cabai merah keriting di Pasar Bantul mencapai Rp 20 ribu per kilogram. Para pedagang mendapat pasokan dari tengkulak dengan harga Rp 15 ribu per kilogram. “Cabai rawit saya ambil sama seperti cabai merah keriting,” ujar Urip,60, pedagang bumbu dapur. Sedangkan untuk cabai keriting hijau, tengkulak mematok harga Rp 12 ribu per kilogram. Kemudian para pedagang menjual kembali seharga Rp 15 ribu.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Dipertautkan) Bantul Pulung Hariyadi menyatakan, harga cabai dan bawang konsisten murah setiap September-Oktober. Itu terjadi sejak lima tahun terakhir.

“Dari pantauan tahun-tahun sebelumnya, harga (cabai, Red) akan naik di tingkat petani pada akhir Oktober mendatang,” katanya.

Anjloknya harga cabai hampir sama dengan bawang merah. Bahkan komoditas bawang merah DIJ harus dilelang di DIJ untuk mendapatkan harga lebih baik.

“Syukurlah, kami mendapat harga Rp 12.500 per kilogram,” katanya.
Untuk pasar lelang di tingkat kabupaten, kata Pulung, sedang direncanakan secepatnya. Paling cepat minggu ini. “Kami tidak bisa menahan terlalu lama. Harus gerak cepat,” sambungnya.

Guna menahan harga cabai agar tak terus merosot, Pulung berjanji melakukan intervensi kepada petani. Caranya, menggelar pasar lelang, mengurangi biaya produksi, dan mengarahkan kelompok tani untuk berwirausaha. “Untuk menekan biaya produksi petani harus menanam dengan biji,” jelasnya.

Strategi wirausaha yang dimaksud adalah membuat produk olahan cabai dan bawang. Misalnya, bawang goreng dan cabai bubuk. Pulung mengklaim telah menularkan ilmu agribsinis agar para petani mampu berinovasi. “Sekarang tinggal diimplementasikan saja ilmu itu,” kata Pulung.

Sementara upaya mencegah harga cabai turun drastis, Pulung mengusulkan kepada petani agar membentuk jaringan untuk menjual langsung ke pasar. “Jangan menunggu tengkulak datang dan mengambil barang. Petani juga harus lebih proaktif,” ingatnya.

Pulung berharap, petani terus belajar entrepreneurship. Dengan menjual hasil panen langsung ke pasar atau mengolahnya supaya hasil panen lebih bernilai ekonomi. (ega/yog)