JOGJA – Dampak penambangan pasir di Kali Progo dikeluhkan ratusan warga dusun Jati Banaran, Galur Kulonprogo. Yang sudah dirasakan dampaknya air tanah yang semakin dangkal hingga tujuh meter.

Keluhan itu disampaikan langsung dengan mengadu ke kantor DPRD DIJ Rabu (12/9). Mereka memprotes penambangan pasir oleh KUBE Sido Maju yang dilakukan dengan alat berat.

Menurut salah satu tokoh warga dusun Jati Indro Purnomo, pasir di Kali Progo itu fungsinya sebagai penampung air tanah.
“Kalau pasirnya terus-menerus digali, sumber air jadi kering, pohon di sekitar Kali Progo akan juga akan kering,” ujarnya.

Indro menambahkan aktivitas penambangan selama dua tahun terakhir menyebabkan pendangkalan sumur di rumah-rumah warga. Selain itu, lahan tani menjadi tidak produktif. Mereka meminta para pemangku kebijakan untuk meninjau surat izin nomor 545/1815/KP2TSP/2017 yang telah dikeluarkan oleh Kantor Pelayanan Perjanjian Terpadu Satu Pintu DIJ.

Awalnya, dalam surat izin penambangan diberikan di wilayah dusun Kujon Kidul Kranggan Galur. “Tapi pada praktiknya melampaui batas, karena aktivitas tambang hingga Dusun Jati Banaran,” katanya.

Indra mengungkapkan, sebelumnya Dinas PUP-ESDM DIJ dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) sudah ditemui warga, namun belum memberikan respon yang memuaskan.

Indra juga menegaskan warga telah dirugikan dengan datangnya PT dari luar yang mengambil pasir di Kali Progo menggunakan alat berat. “Back hoe itu akan merusak lingkungan,” ungkapnya.

Anggota Komisi C DPRD DIJ Chang Wendryanto mengatakan lembaganya akan mempertimbangkan pencabutan ijin penambangan KUBE Sido Maju.

“Kami (DPRD) juga tidak sepakat tambang dengan alat berat, baik back hoe maupun yang disedot,” ujarnya.

Politikus PDIP berharap kejadian ini tidak terulang kembali. Menurut dia, sungai seharusnya dibiarkan mengalir secara alami, sehingga dapat menjadi tumpuan penghidupan masyarakat.

“Kalau nanti terjadi lagi, bisa difoto sampaikan kepada kami (DPRD). Akan kami minta ditindak,” tegasnya. (tif/pra)