JOGJA – Musim hujan sebentar lagi akan tiba. Agar air hujan tidak terbuang sia-sia, diciptakan cara untuk mengumpulkannya dengan membuat lubang biopori agar bisa dipanen pada saat musim kemarau. Lubang ini juga berguna untuk menghindari banjir.

Ahli Hidrologi UGM Agus Maryono mengembangkan alat pemanen air hujan tersebut. Air hujan diolah menjadi air siap minum dan bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Alat pemanen air hujan dan biopori jumbo tersebut dikenalkan kemarin. Bertempat di Auditorium Akademi Sekretari dan Manajemen Marsudirini (ASMI) Santa Maria di Bener, Jogja.

Alat tersebut terdiri dari tangki penampung air hujan, paralon dan alat penyaring. Agus mengatakan air hujan adalah rezeki yang harus dimanfaatkan sehingga pada musim kemarau tidak perlu susah payah mencari air.

“Dengan alat pemanen air ini bisa sebagai penyimpan air hujan. Air hujan pun bisa langsung diminum,” kata Agus.

Cara kerja alat tersebut tidak rumit dan hemat. Air hujan dialirkan melalui genting rumah kemudian masuk tangki melalui paralon dengan penyaring. “Biaya pembuatan sekitar Rp 2 juta,” kata Agus.

Dikatakan, air hujan bermanfaat baik bagi tubuh. “Air hujan adalah demineral yang bermanfaat untuk terapi diabetes,” kata Agus.

Bersamaan, dikenalkan biopori jumbo oleh Wakil Wali Kota (Wawali) Jogja Heroe Poerwadi. Heroe mengatakan alat biopori jumbo bisa dimanfaatkan untuk pengelolan limbah dan drainase air hujan.

“Limbah seperti sayuran dan dedaunan dimasukkan ke lubang biopori dan menjadikannya kompos. Sekaligus sebagai lubang masuk air hujan untuk menimalisir banjir di permukiman,” ujar Heroe.

Heroe berencana menyosialisasikan biopori jumbo ke seluruh pemukiman di Kota Jogja. “Rencananya dipasang di gang-gang. Agar air hujan tidak menggenang dan masuk ke lubang biopori,” kata Heroe. (cr5/iwa)