JOGJA- Dolar Amerika Serikat yang kian menguat membuat rupiah kian terpuruk. Kendati demikian, nilai tukar dolar AS yang mencapai level Rp 15.029 Rabu (5/9) ternyata tak begitu berpengaruh pada transaksi money changer di Jogjakarta.

Galih Ramadhan, manager money changer di Jalan Parangtritis, mengungkapkan, sejauh ini tak banyak warga Jogja yang memanfaatkan kondisi lemahnya rupiah untuk menukar dolar AS. “Penukaran dolar sebatas kebutuhan saja. Tak banyak yang tukar uang. Sama saja” kata Galih.

Pernyataan Galih tampak dari kondisi kantornya yang tanpa antrean. Meski dolar AS juga berpengaruh pada mata uang negara lain, menurut Galih, tetap tak mempengaruhi transaksi money changer. “Dolar jadi patokan mata uang secara global. Biasanya kalau doar naik, lainnya naik juga,” katanya.

Menurut Galih, kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah justru menguntungkan sebagian pengusaha. Namun tidak demikian untuk keuangan negara. “Semoga sistem perdagangan di Indonesia lebih meningkat supaya rupiah kembali menguat,” harapnya.

Prediksi Galih tak keliru. Sapto Daryono, seorang pengrajin kaca ini mengaku banyak mendapat keuntungan dengan menguatnya Dolar.

”Permintaan ekspor justru naik hingga 20 persen,” tuturnya.

Pria asal Dusun Manding, Sabdodadi, Bantul ini mengirim produknya ke berbagai negara Eropa. Seperti Prancis, Jerman, Belanda, hingga Belgia. Sebulan mencapai tiga kontainer.

”Omzetnya sekitar Rp 800 juta,” sebutnya semringah. (mg2/zam/fn)