Terjun di dunia batik bukanlah cita-cita Jazid Bastomi kecil. Namun, dia justru tumbuh menjadi desainer batik andal. Karya-karyanya tak hanya diakui pasar nasional, tapi juga dunia.

BUDI AGUNG, Purworejo

Beberapa lembar kain batik terpajang di sebuah bangunan sederhana di ruang pameran kantor Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Purworejo. Beberapa di antaranya berupa batik warna-warni. Sepintas motif batik karya Jazid Bastomi mirip dengan batik kontemporer. Tapi setelah diamati lebih seksama tampak ciri khasnya. Setiap objek dalam motif batik tampak hidup dilihat dari berbagai sisi. Itulah batik tiga dimensi yang menjadi ciri Jazid. Dia menyebutnya batik lukis (balu). Memang tak begitu lazim. Apalagi saat ini masih sangat jarang seniman batik Indonesia membuat karya tiga dimensi. Tapi justru itulah keunggulan batik hasil sentuhan pra 38 tahun asal Desa Besole, Bayan, Purworejo.

Kesan tiga dimensi muncul sejak awal proses pembuatannya. Jazid memadukan teknik membuat batik konvensional dengan lukis. Lukisan di atas kain menjadi desain awal. Kemudian dipertegas dengan malam sebelum dicelupkan ke cairan pewarna. “Membuatnya memang cukup rumit. Butuh konsentrasi tinggi,” ungkap Jazid yang selalu menggarap sendiri setiap karyanya.

Berkat karya uniknya itu Jazid memperoleh kesuksesan hidup. Setidaknya, karyanya laris manis. Bahkan mampu menembus pasar dunia. “Ada satu lembar batik saya menembus harga Rp 60 juta,” sambungnya.

Itulah berkah ketekunan Jazid. Kini dia tinggal menikmati hasil kerja kerasnya. Rumah bagus dan kendaraan nyaman yang menemaninya sehari-hari hanya sebagian dari hasil membatik.

Jazid tak menyangka bisa melangkah sejauh ini. Tak pernah terpikir dalam benaknya menjadi desainer batik. Sejak kecil dia justru bercita-cita menjadi arsitek. Itu bermula kegemarannya menggambar sejak duduk di bangku SD. Rumah elit dan megah menjadi objek paling disukai untuk dituangkan dalam coretan kertas. Namun perjalanan hidupnya berkata lain.

Ketertarikannya pada dunia batik bermula saat mendengar info
penyelenggaran lomba batik tingkat Provinsi Jawa Tengah. Jazid lantas gerilya dengan mendatangi beberapa sentra batik di Purworejo. Tujuannya satu, belajar membatik dengan baik dan benar. Seiring perjalanannya menekuni dunia batik, Jazid merasakan ada stagnasi perkembangan batik Purworejo. Bahkan hampir punah. “Corak batik yang hanya itu-itu saja menimbulkan rasa bosan,” ungkapnya.

Melihat kondisi itu, tekad Jazid untuk total di dunia batik kian bulat. Cita-cita menjadi arsitek dipupusnya sendiri. Dia memantapkan diri menjadi desainer batik dengan mengikuti pendidikan formal di lembaga Pendidikan Perhimpunan Perancang Mode Indonesia (PAPMI) Yogyakarta.

Lulus pendidikan Jazid membuka usaha jahitan di rumah. Selanjutnya menekuni usaha dekorasi, rancangan kebaya, dan gaun pengantin. Ingin terus mengembangkan usaha, Jazid menguatkan sayap usaha rumahannya dengan membuka butik di Jalan Mayjend Sutoyo, Purworejo. “Kalau hanya sebatas di rumah, usahanya hanya itu-itu saja dan kurang diketahui konsumen,” kata sosok yang masih melajang ini.

Menurut Jazid, pembatik lokal Purworejo terlalu kaku dan terpaku pada motif melati seconthong, luh kenongo, dan semen reni. Dengan pewarnaan sagon atau coklat tua. Tidak ada keberanian pembatik untuk berkreasi membuat corak berbeda tanpa meninggalkan corak dasarnya. Karena itu Jazid berusaha membuat batik dengan mengolaborasikan motif melati seconthong dengan gambar tokoh-tokoh pewayangan serta ragam bunga nusantara. Hasilnya berupa motif batik yang tampak ngejreng dan fresh.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) termasuk salah satu pelanggan rutin batik kreasi Jazid. Berawal di pameran potensi Purworejo 2008. Ketika itu Ibu Ani Yudhoyono menyempatkan mampir di outlet-nya. Tak disangka, Ibu Negara 2004-2014 itu tertarik dengan batik karya anak lokal Purworejo. “Saat itu Ibu Ani membeli beberapa baju dan kain batik,” kenang Jazid. “Sudah tak terhitung, kain dan baju batik buatan saya yang di pakai Pak SBY maupun Ibu Ani,” sambungnya.

Selain membuat batik lukis sendiri, Jazid dibantu 15 pembatik asal Kemanukan, Bagelen, dan Banyuurip untuk mengisi koleksi butiknya. Sedangkan untuk pemasaran produk, Jazid mengaku kerap dibantu para desainer nasional.

Hasil karya Jazid bukan hanya laris di pasar batik. Motif karyanya pun mampu membuat decak kagum dewan juri lomba bagik Dekranasda Jawa Tengah pada 2007. Ketika itu motif batik Nusantara karya Jazid menjadi juara. Setahun berikutnya Jazid kembali meraih juara dengan batik motif wayang. (yog/ong)