JOGJA – Data Dinas Kesehatan DIJ soal tingginya kasus HIV/AIDS mendapat tanggapan beragam. Khususnya terkait kalangan mahasiswa yang disebut paling mendominasi jumlah pengidap HIV/AIDS sejak 1993 hingga triwulan 2018.
Pengamat sosial Universitas Gadjah Mada (UGM) Pande Made Kutanegara menjelaskan, hal tersebut salah satunya dipengaruhi tingginya migrasi HIV di kalangan mahasiswa yang cukup tinggi. “Mahasiswa baru (pengidap HIV, Red) dari luar daerah masuk ke Jogja. Prevalensi di Jogja jadi tinggi,” ungkapnya Selasa (4/9).

Menurut Made, peningkatan prevalensi HIV bukan semata-mata karena jumlah pengidapnya bertambah. Temuan data baru bisa jadi karena kesuksesan pemerintah mendorong masyarakat aktif melapor. Dengan begitu, jumlah pengidap HIV tahun sebelumnya bisa lebih sedikit dari tahun ini lantaran belum ketahuan. Selain pemerintah daerah, keberadaan lembaga masyarakat cukup berperan dalam menekan penularan HIV/AIDS di DIJ. Demikian pula lembaga pendampingan HIV dan AIDS. Salah satunya di perguruan tinggi. “Dengan pendekatan khusus kini tak sedikit pengidap HIV/AIDS berani datang ke lembaga-lembaga pendampingan untuk melapor,” katanya.

Sebagai kota pendidikan, lanjut Made, sebagian besar masyarakat Jogjakarta menilai HIV bukanlah sebuah aib. Melainkan penyakit yang harus diobati. Hal tersebut bisa menjadi nilai positif dalam pencegahan. Sehingga ketika ada seseorang mengidap HIV/AIDS, masyarakat tak lagi menghujat. Tapi bersama-sama mencarikan solusinya. “Jangan disingkirkan karena mereka (pengidap HIV) akan ketakutan, sehingga tak berani melaporkan diri,” tuturnya.

Made juga menekankan pentingnya peran keluarga. Karena sebagian besar pengidap HIV/AIDS merupakan individu yang ‘tercampak’ dari keluarga. Pendekatan lewat agama juga perlu. Namun, harus lebih dititikberatkan pada upaya preventif. Bukan menghakimi si pengidap HIV/AIDS.

Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Gregorius Sri Nurhartanto turut prihatin mengetahui data jumlah pengidap HIV/AIDS Dinas Kesehatan DIJ. Terlebih mayoritas pengidap merupakan usia produktif 20-29 tahun.

Sri menyatakan, UAJY telah melakukan antisipasi guna mencegah penularan HIV pada mahasiswa. Salsah satunya lewat sosialisasi bagi mahasiswa baru.

Dengan melibatkan aparat kepolisian untuk menjelaskan dampak penyalahgunaan narkoba dan seks bebas. Yang berdampak pada penyebaran HIV/AIDS.

Selain memberikan paparan bahaya dan faktor penularan HIV/AIDS, UAJY menerapkan program pelatihan dasar kepemimpinan mahasiswa. Untuk mengarahkan minat dan potensi mahasiswa dengan pendampingan para senior, dosen, dan para suster. UAJY juga mempunyai mata kuliah wajib yang mengajarkan tentang nilai moral.

Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Sari Bahagiarti mengatakan, guna menangkal penularan HIV/AIDS setiap mahasiswa diwajibkan aktif dalam unit-unit kegiatan kemahasiswaan (UKM), baik berbasis keilmuan maupun minat bakat.“Agar jauh dari ancaman narkoba dan pergaulan bebas mereka harus disibukkan dengan kegiatan positif,” tegasnya.

Pencegahan penularan HIV/AIDS juga dilakukan para aktivis Victory Plus Yogyakarta. Khususnya melalui kegiatan pemberdayaan. Nama programnya psiko sosial.

Program tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup para pengidap HIV/AIDS. Salah satunya, dengan tidak menularkan virus pada orang lain. Pimpinan Victory Plus Yogyakarta Samuel Rahmat Subekti mengatakan, ada lima pilar agar hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) berkualitas. Pertama, percaya diri. ODHA harus siap menerima status penyakitnya. “Memang ada yang tidak bisa menerima status itu. Ada yang marah, stres, hingga mau bunuh diri,” kata Samuel.

Melalui program tersebut, Samuel mengajak ODHA mau membuka status mereka pada orang-orang terdekat. Kedua, ODHA harus memiliki pengetahuan dan dibekali informasi yang benar. “Dengan mengetahui informasi yang benar, ODHA tidak perlu takut dengan statusnya,” sambung pria yang berlatar belakang arsitek itu.

Ketiga, ODHA juga diberi pengetahuan bagaimana memanfaatkan pengobatan dan cara mengaksesnya. Keempat, ODHA diharapkan tidak menularkan virus tersebut. ODHA harus tahu cara mencegah agar tak menularkan virusnya kepada orang lain. Misalnya, bagi pelaku seksual aktif wajib menggunakan kondom. Kelima, ODHA harus melakukan kegiatan rutin positif. Serta pelan-pelan menjalani perubahan perilaku. “Dari lima pilar ini kami termasuk dalam langkah pencegahan penularan,” kata Samuel.

Samuel menegaskan, penyebaran HIV/AIDS paling mudah melalui hubungan seksual. Penularan lain lewat air susu ibu pengidap HIV/AIDS kepada bayinya. Dalam kondisi lain, jika ibu HIV/AIDS melahirkan secara normal, maka virus bisa disebarkan melalui darah. Cara amannya adalah melahirkan secara Caesar dan dilakukan oleh dokter khusus pasien HIV/AIDS. “Penyebaran virus HIV/AIDS berbeda cara penularannya dengan virus hepatitis yang bisa ditularkan melalui peralatan makan atau bahkan pakaian,” jelasnya.

Samuel menyarankan setiap pasangan yang akan menikah melakukan tes HIV/AIDS. Hal ini sebagai salah satu bentuk pencegahan penularan HIV/AIDS.
Dikatakan, pengidap HIV stadium 1 dan 2 masih bisa ditangani dengan cara mengonsumsi obat seumur hidup. Sedangkan AIDS merupakan stadium tinggi pengidap HIV. Imun tubuh pengidap tak lagi mampu menahan berbagai penyakit.

Sementara itu, belasan anak di Gunungkidul diketahui positif HIV/AIDS berdasarkan data dinas kesehatan setempat. Jumlah anak pengidap HIV/AIDS sekitar 3,5 persen dari total ODHA di Gunungkidul. “Kasus ini terjadi lantaran anak tertular oleh orang tuanya yang terlebih dulu terkena penyakit tersebut,” jelas programer HIV dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Gunungkidul Ani Hidayati.

Sejak 2006 terdapat 337 kasus. Sedangkan selama triwulan kedua 2018 terdapat 36 pengidap HIV dan 21 AIDS dengan rentang usia anak-anak hingga dewasa.
Adapun persentase jumlah pengidap HIV/ AIDS didominasi laki-laki yakni sebesar 55 persen. Sisanya perempaun sebanyak 45 persen. Dari pemetaan dinkes, persebaran HIV/AIDS hampir di seluruh wilayah kecamatan. “Kami mengimbau masyarakat menjaga pergaulan agar tidak terjerumus dalam seksual bebas tanpa pengaman yang berpotensi menjadi media penularan penyakit ini,” tutur Sekretaris Dinkses Gunungkidul Priyanta Madya Satmaka kemarin.(tif/ita/cr9/gun/yog/ong)