SLEMAN – Dua orang haji asal Sleman meninggal dunia saat menunaikan rukun Islam ke lima di Tanah Suci. Keduanya adalah Soetjatmin Siswo Taruno,86, asal Sidoarum, Godean dan Paimin Hardja Pawira,74, dari Sumberharjo, Prambanan. Soetjatmin tergabung dalam kloter 21 SOC, sedangkan Paimin kloter 26 SOC. Karena meninggal di Tanah Suci, keduanya dimakamkan di Arab Saudi.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sleman Sa’ban Nuroni mengungkapkan, selain masuk kategori usia rawan, meninggalnya Paimin diduga akibat penyakit paru-paru yang diderita sejak sebelum berangkat haji. “Pak Paimin sempat dirawat tim medis. Tapi Kamis (30/8) jiwanya tak bisa tertolong,” tutur Sa’ban Senin (3/9). Sedangkan Soetjatmin meninggal pada 1 Agustus lalu, diduga lantaran faktor usia.

Dengan begitu ada 1.118 jamaah haji Sleman yang dijadwalkan kembali ke Tanah Air secara bertahap sejak Senin (3/9). Lalu berturut-turut pada hari ini Selasa (4/9) untuk kloter 25 SOC dan besok (5/9) kloter 26 dan 27 SOC.

“Semoga tak ada jamaah yang menderita sakit atau meninggal selama di perjalanan pulang,” harap Sa’ban.

Sebanyak 358 jamaah haji kloter 21 SOC Sleman menjadi yang pertama kembali di daerah kemarin. Mereka diangkut delapan bus dan diturunkan di halaman Masjid Agung Sleman.

Isak tangis sanak keluarga mewarnai kepulangan jamaah haji. Salah seorang haji, Siti Nurhidayati, langsung memeluk kedua cucunya sesaat setelah keluar dari Masjid Agung Sleman. “Sangat bahagia sekali diberi kesempatan untuk melaksanakan haji,” katanya sambil sesekali mengusap air mata.

Perempuan berusia 54 tahun itu harus menunggu tujuh tahun sebelum akhirnya mendapat kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci. Bisa berangkat haji merupakan suatu berkah dan kenikmatan baginya. Dengan ini lengkap sudah semua rukun Islam.

Sambil memeluk kedua cucunya, Siti yang berangkat bersama sang suami, Anwari Suahrowadi, 62, mengaku sangat menikmati semua proses ibadah haji. Termasuk suasana panas dan sesaknya ketika thawaf. “Walaupun berdesak-desakan sampai terinjak pun saya tetap tidak bisa mengalahkan rasa syukur,” kata perempuan asal Kecamatan Mlati itu.

Bupati Sleman Sri Purnomo menyambut kedatangan jamaah haji di Masjid Agung. Dalam kesempatan itu, bupati berharap kepada para jamaah haji untuk konsisten dan istiqamah menjalankan amalan haji saat di Tanah Suci untuk diimplementasikan di kampung halaman. “Taat kepada Allah tak hanya ketika berada di Baitullah. Namun berlanjut di Tanah Air, dan di lingkungan keluarga dan masyarakat,” tuturnya.

Bupati mengingatkan bahwa sekembali dari Tanah Suci seluruh jamaah berhak menyandang gelar haji. Itu berarti mereka harus bisa menjadi panutan masyarakat. Baik dalam hal ibadah maupun perilaku.

Perilaku yang baik, kata bupati, salah satunya dengan memakmurkan masjid di lingkungan tempat tinggal. Misalnya, rutin salat jamaah. (har/yog/fn)