KULONPROGO – Rencana pembangunan jalur kereta api (KA) melintasi New Yogyakarta International Airport (NYIA) cukup santer kabarnya. Namun, sejauh ini belum ada kejelasan tindak lanjutnya. Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo memastikan tidak akan melakukan pembebasan lahan jalur kereta sebelum ada kejelasan rencana tersebut.

“Desain jalur kereta dan kebutuhan lahannya harus jelas,” ujar Hasto Minggu (2/9).

Desain jalur kereta sangat menentukan dalam perhitungan lahan yang dibutuhkan. Hasil perhitungan itulah yang akan menjadi dasar Pemkab Kulonprogo untuk membebaskan lahan. Disesuaikan dengan kebutuhan jalur kereta.

Kejelasan rencana tersebut penting bagi Pemkab Kulonprogo untuk menentukan langkah-langkah lanjutan. Jika rencana pembangunan jalur KA NYIA sudah ada titik terang, kata Hasto, pihaknya bisa segera mengambil langkah taktis. Misalnya, membentuk tim pembebasan lahan.

Hasto mengingatkan, proses pembebasan lahan butuh waktu cukup lama. Prosesnya juga panjang dan njlimet. Mulai sosialisasi kepada warga terdampak, penilaian ganti rugi (appraisal) lahan hingga pencairan dananya, serta pembangunan fisik dan kelengkapan sarananya. Hasto tak menampik bahwa pembangunan jalur kereta memerlukan perhitungan matang. Tapi, dia meminta hal itu tidak kelamaan.

“Kalau mundur-mundur terus ya susah. Sangat berat (memenuhi target, Red) jalur kereta api bandara bisa selesai 2019,” katanya.

Kendati demikian, sejauh ini Hasto masih optomistis. Target operasional NYIA pada 2019 bakal tercapai. Sekaligus pembangunan jalur kereta api yang terintegrasi dalam area bandara internasional itu.

Camat Temon Djaka Prasetya mengungkapkan, pertemuan terakhir dengan tim perencana proyek jalur kereta sebatas menyiapkan rancangan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Itu pun sudah berlalu sekitar empat bulan lalu. “Sampai saat ini belum pernah ada pertemuan lagi,” bebernya.

Tanpa informasi valid dari tim perencana proyek jalur KA NYIA, Djaka mengaku kesulitan memetakan kawasan yang bakal dilalui kereta api. Setahu dia, sesuai gambar rancang yang telah disepakati tim jalur KA NYIA melalui kuburan di lahan relokasi Glagah. Meski pembahasan terakhir konsep jalur KA NYIA seperti itu, Djaka tetap berharap realisasi pembangunan jalur kereta tidak menggunakan lahan penduduk.

Langkah tersebut guna meminimalisasi risiko penolakan warga saat proses pembebasan lahan. Jika tetap harus melalui lahan warga, Djaka siap memfasilitasi semua pihak terkait untuk berkoordinasi dan mencari solusi bersama demi terlaksananya rencana pembangunan jalur KA NYIA.

“Kami belajar dari pembebasan lahan NYIA. Semoga pembebasan lahan jalur kereta bisa berjalan lebih baik,” harapnya.

Belum lama ini Kabid Sarna dan Prasarana Bappeda DIJ Muanrto menyatakan, pembahasan dengan tim dari Kementerian Kemaritiman dan PT Angkasa Pura I telah ditetapkan simpang rel KA NYIA akan dipusatkan di Stasiun Kedundang. Jaraknya sekitar empat kilometer dari NYIA. (tom/yog/ila)