Ajaibnya Bukit Manthiqul, Gigi Netral, Bus Melaju 120 Km

Sopir lalu menetralkan gigi atau persneling bus berbobot lima ton itu, sambil mengangkat tangannya. Tiba-tiba bus mundur meski jalannya menanjak. Ajaib. Penulis yang duduk di belakang sopir memastikan posisi gigi sudah netral. ‘’Ini yang disebut daerah medan magnet. Panjangnya sekitar 10 kilometer,’’ kata Ustad Idris, tour leader.

Bus-bus yang ditumpangi jamaah haji lain juga melakukan hal sama. Ini sekadar membuktikan wilayah itu daerah medan magnet.

Saat sopir kembali menjalankan bus, meski tidak terlalu menanjak, seakan tertarik ke belakang. ‘’Biasanya jalan begini gigi lima kuat. Ini gigi empat masih empot-empotan. Daya tarik magnet kuat sekali,’’ kata Atang Suparman, sopir bus yang ditumpangi rombongan jamaah. ‘’Nanti kita akan buktikan lebih jauh soal medan magnet saat kembali ke jalan ini,’’ tambahnya.

Bus lalu berhenti di jalan buntu dekat gunung putih. Disebut gunung putih karena warnanya lebih putih dibandingkan gunung atau bukit sekitarnya. Di beberapa tempat ada tenda terpasang.

‘’Kalau malam kawasan ini sangat ramai meski gersang. Banyak warga Madinah pelesir di sini karena daerah sekitar tidak ada penduduknya. Pakai mobil, mendirikan tenda atau sewa tenda di sini. Warga Arab suka tempat sepi untuk menyendiri,’’ jelas Ustad Idris.

Makanya, polisi sering berpratoli di wilayah ini malam hari. Kalau ada pasangan yang bukan mahram berduaan bakal ditangkap. Meski berkemah satu keluarga, biasanya perempuan dan laki-laki dipisahkan. ‘’Itu tradisi Arab,’’ tuturnya.
Bus kembali menuju Madinah. Saat melewati medan magnet di jalan menanjak bus kembali berhenti. Sebagian penumpang turun untuk membuktikan kawasan itu medan magnet.

Botol berisi air botol mineral penuh diletakan di jalan. Mendadak botol berguling. Bukan ke arah yang lebih rendah tapi mengarah ke jalan yang menanjak. Di sini pendapat penumpang sebagain pecah. Pertama, mengakui itu akibat pengaruh medan magnet.

Pendapat kedua, botol berisi air yang terguling tadi bukan akibat pengaruh medan magnet. Tapi, ada gaya tarik lain meski penumpang tadi tidak bisa menjelaskan secara ilmiah. ‘’Kalau ada medan magnet itu mengarah atau menarik benda terbuat dari besi. Ini air kok bisa ditarik,’’ ungkap salah seorang jamaah haji keheranan.

Sopir bus kembali membuktikan bahwa itu pengaruh medan magnet. Sopir lalu menetralkan gigi seraya membiarkan mesin tetap hidup. ‘’Kalau mesin dimatikan nanti sulit dihidupkan karena aki bus kalah besar dengan daya tarik medan magnet sekitarnya. Akibatnya, mesin bus sulit dihidupkan kalau sudah dimatikan di daerah medan magnet,’’ jelas Atang.

Fenomena itu seperti mobil yang mesinnya mendadak mati di tengah pelintasan kereta api saat ada kereta hendak lewat. Karena aki mesin mobil kalah besar kapasitasnya dibandingkan kereta. Karena itu mesin mobil bisa mendadak mati.
Saat gigi bus dinetralkan di tempat menanjak, mendadak bus bergerak. Mula-mula pelan lalu kian kencang. Spedometer bus yang semula menujukkan angka nol bergerak ke angka 10, 20, 40., 60. Terus bertambah menjadi 80, 100 kilometer per jam hingga suara alarm bus berbunyi.

Sopir tetap membiarkan laju bus karena jalannya sepi. Angka spedometer terus bergerak hingga 120 kilometer. ‘’Saya hanya pegangi kemudi saja. Tidak nginjak gas,’’ tambah Atang.

Untuk membuktiklan kembali wilayah itu medan magnet. Atang menginjak rem secara perlahan untuk menghentikan bus yang sudah melaju 120 kilometer per jam itu.

Sebagian penumpang melihat spedometer. Bahkan ada yang memotretnya segala untuk membukikan bahwa gigi atau persneling bus sudah netral dan spedometer menunjukkan angka nol.

Begitu sopir melepas rem, bus mulai bergerak maju. Mulai melaju pelan. Lama-lama kian kencang. Seperti yang pertama spedometer mula-mula menunjukkan angka sepuluh, lalu bertambah 20 , 30 sampai akhirnya 100 kilometer perjam hingga alarm bus berbunyi. Puncaknya, mencapai 120 kilometerr per jam.
Kabarnya, daya tarik medan magnet di Madinah merupakan yang terkuat di dunia. Fenomena serupa atau medan magnet juga ada di wilayah negara Korea Selatan, Yunani, Australia, timur Amerika, dan juga di sekitar Gunung Kelud, Jawa Timur. Hanya, kekuatan magnet di daerah tersebut tidaklah sekuat di Madinah.

Menurut Ustad Idris, keberadaan pusat medan magnet memang masih kontroversi. Ada yang meyakini pusat medan magnet ada di bawah bumi. Sebaliknya, seorang peneliti Amerika meyakini pusat medan magnet sebenarnya deretan gunung di sebelah kiri jalan dari Madinah. ‘’Soal mana yang benar masih terus diteliti,’’ kata Ustad yang berbadan subur itu.

Tapi, sebagaian ulama setempat berpendapat itu keajaiban alam sekaligus tanda-tanda kebaesaran Allah bagi mereka yang mau berfikir.

Medan magnet Madinah baru diketahui pemerintah Saudi Arabia pada 1984. Tapi, waktu itu masih dirahasiakan. Baru beberapa tahun belakangan informasi itu dibuka. ‘’Yang banyak berkunjung ke sini (medan magnet) jamaah Indonesia dan Malaysia. Jamaah Pakistan, India, dan Turki belakangan tahu dan datang,’’ ungkapnya.

Bahkan semula sebelum dikenal adanya medan magnet. Daerah ini oleh warga Arab dikenal menjadi pusatnya jin dan setan. Karena itu jarang ada warga berani datang. Ternyata informasi sesat sengaja disebar untuk menutupi daerah itu sebenarnya yang menjadi medan magnet.

Secara geologi, kota Madinah dan sekitarnya geologis berdiri di atas Arabian Shield tua (umur 700-an juta tahun) yang dihiasi endapan lava alkali basaltik (thoelitic basalt) seluas 180.000 km persegi.

Lava bersifat basa ini muncul ke permukaan Bumi dari kedalaman 40-an kilometer melalui zona rekahan sepanjang 600 km dikenal sebagai Makkah-Madinah- Nufud volcanic line.

Itu karena wilayahnya membentang dari dekat Makkah di selatan, melintasi Madinah berujung di daratan Nufud di utara. Sehingga vulkanisme Arabia merupakan vulkanisme hotspot seperti halnya vulkanisme Kepulauan Hawaii dan sangat bertolak belakang dengan vulkanisme produk subduksi antar lempeng (seperti di Indonesia) yang menghasilkan magma bersifat asam.
Banyak gunung berapi terbentuk di sepanjang zona rekahan ini, seperti Harrah Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid, dan Harrah Khaybar (Harrah Khaybar adalah perbukitan berbatu tandus menjadi lokasi benteng-benteng suku Yahudi dalam Perang Khaybar).

Jangan bayangkan gunung-gunung ini berbentuk kerucut menjulang tinggi seperti gunung berapi di Indonesia. Karena vulkanisme Arabia lebih didominasi erupsi efusif (leleran) sehingga gunung berapi muncul bersifat melebar, dengan puncak-puncak rendah. Kompleks semacam ini lebih cocok disebut volcanic field (atau harrah, bahasa Arab-nya).

Harrah Rahat paling menarik. Panjang 310 kilometer, membentang dari utara Madinah hingga ke dekat Jeddah dan mengandung sedikitnya dua ribu kilometer kubik endapan lava yang membentuk dua ribu lebih kerucut kecil (scoria) dan 200-an kawah maar.

Selama 4.500 tahun terakhir Harrah Rahat telah meletus besar sebanyak 13 kali dengan periode antar letusan rata-rata 346 tahun. (yog/habis)

Lainnya

Terbaru