NAMANYA pedagang kaki lima (PKL) nasibnya sama saja. Dimana-mana selalu dikejar-kejar petugas. Tak terkecuali yang berjualan di pelataran dan jalan-jalan sekitar Masjid Nabawi, Madinah. Minggu (20/11/2011) sore selepas salat Ashar ribuan jamaah bergegas keluar Masjid Nabawi lewat pintu utama sebelah timur atau pintu nomor 21. Saat itulah momen terbagus bagi pedagang kaki lima menjajakan dagangan mereka.

Beberapa perempuan Nigeria, Afrika, mengenakan burqa, yakni busana muslim serba hitam dengan penutup wajah menyisakan mata saja. Mereka menggelar daganga di jalan yang dipadati jamaah dari masjid. Ada yang pakai kain besar, gerobak, dorongan bayi, pokoknya tempat apa saja yang penting praktis.
Tujuannya, kalau ada petugas datang, mereka bisa langsung kabur sambil membawa barang dagangan. Karena harganya relatif murah, jamaah pasti mengerubungi PKL itu.

Tak hanya jamaah dari Indonesia yang jadi pelanggan tetap para PKL di sini. Ada juga jamaah dari India, Pakistan, Iran, dan jamaah mancanegara lainnya. PKL tadi selain bisa berbahasa Arab, juga mengerti bahasa Inggris, dan Indonesia. Jadi, soal tawar-menawar tidak ada masalah. Semuanya dilakukan serba cepat. ‘’Sepuluh real,’’ kata PKL tadi sambil menyebut harga celana kombyor putih tipis. Matanya terus celingak-celinguk mengawasi sekitarnya.
Padahal, di toko paling murah sekalipun harga celana sejenis 20 real. Bahkan ada yang dijual sampai 30 real. Tak heran banyak jamaah memborong lima hingga 10 celana kombyor tadi.

Belum sempat dibayar datang polisi. PKL tadi pun dengan sigap kabur sambil membungkus barang dagangannya.

Sang pembeli sambil membawa celana yang belum dibayar terpaksa ikut lari mengejar PKL tadi. ‘’Haji..haji,’’ teriak PKL tadi kepada pembeli yang belum membayar, seraya diminta mengikuti langkahnya. Begitu sampai di tempat aman, PKL tadi menggelar daganganya lagi. Sorot matanya terus mengawasi sekitarnya.

Tapi, tak lama kembali datang petugas. Kali ini bukan polisi atau tentara. Tapi, petugas berpakaian biasa yang suka mangkal di Masjid Nabawi. Sambil berteriak-teriak, mereka terus mengejar pedagang. Yang tertangkap barangnya dibuang, diobrak-abrik.

Sedangkan PKL lain yang diteriaki lari kocar-kacir sambil mengusung barang daganganya. Jamaah atau pembeli hanya bisa bengong melihat kejar-kejaran petugas dengan PKL tadi. Namanya PKL banyak akal, dan tidak gampang menyerah.

PKL yang dikejar menyeberang jalan besar. Sedangkan petugas hanya mengawasi dari jauh. Di sana kembali PKL menggelar dagangannya. Karena lokasinya jauh hanya dihampiri satu dua pembeli saja.

Tak hanya di pintu utama PKL umumnya didominasi perempuan Nigeria tadi. Juga di pintu keluar jamaah perempuan dan pintu keluar dekat super market Bin Dawood. Di sini lebih aman karena hanya sesekali diobrak. Itu pun kalau jalannya macet akibat banyaknya pembeli yang mengerubungi PKL.
Obrakan terhadap PKL di sekitar Masjid Nabawi hampir terjadi setiap hari. Biasanya usai salat Subuh maupun Ashar. Karena biasanya PKL menggelar daganganhya usai salat. Jarang ada PKL menggelar dagangan setelah Magrib, apalagi Duhur yang biasanya panas.

Polisi dan petugas yang mangkal di sekitar Masjid Nabawi memang disiplin. Selain jumlahnya cukup banyak, mereka terus berpratoli. Khususnya menjelang dan usai salat wajib. Mereka terus menyisir dan mengusir PKL yang mangkal dan berjualan di sekitar Masjidilharam.

Hanya, pengusiran tidak berlaku bagi sekitar lima sampai enam PKL yang mangkal persis di depan pintu masuk utama Masjid Nabawi.

Yakni, PKL yang berjualan kayu siwak (kayu yang di zaman Nabi Muhammad SAW dipakai untuk membersihkan gigi). PKL ini bahkan 24 jam nonstop dagangannya. Tapi, tak pernah diusir.

Belakangan penulis tahu kalau PKL tadi asli warga Arab Saudi. Hingga petugas dan polisi yang juga sama-sama warga Arab tampak pakewuh mengusir mereka. ‘’Warga Arab umumnya berani sama polisi. Apalagi dari Suku Badui. Mereka menolak ditilang meski salah atau melanggar lalu lintas. Dalihnya, saat zaman Rasul tidak ada lampu merah,’’ ujar Ustad Idris, pembimbing haji yang pernah menyaksikan perdebatan seorang Suku Badui dengan polisi setempat. Akhirnya polisi angkat tangan, tidak jadi menilang.

Madinah bukan saja dikenal sebagai Kota Rasul dengan ikon utama Masjid Nabawi. Tapi juga menjadi surge bagi mereka yang maniak belanja. Barang apa saja ada di kota ini. Tak hanya oleh-oleh khas Arab seperti kurma, tasbih, aneka souvenir, dan perhiasan emas atau perak. Buku dan Alquran pun tersedia di sini.

Masjid Nabawi memang dikepung pertokoan. Begitu keluar dari halaman masjid ratusan bahkan ribuan toko menyambut jamaah dengan aneka barang dagangan. Juga deretan restoran dan rumah makan. Bahkan hampir di setiap lantai dasar dan ruang bawah tanah hotel selalu dijadikan pusat perbelanjaan. Seperti di kompleks Taiba Commersial Center.

Menariknya, hampir setiap toko dan pusat perbelanjaan selalu dipenuhi pengunjung. Terutama jamaah haji Indonesia. Saat penulis blusukan ke berbagai toko dan pusat perbelanjaan selalu bertemu jamaah haji Indonesia. Mereka dikenal royal belanja. Tak heran banyak pedagang yang umumnya bisa berbahasa Indonesia selalu menyapa ramah jamaah haji Indonesia setiap kali mereka lewat di depan tokonya. ‘’Apa kabar’’, ‘’Hayo mampir’’, ‘’Harga murah’’ ,’’Indonesia baik’’. Dan kata-kata menarik lainnya.

Tujuannya, agar jamaah haji Indonesia mampir dan membeli barang dagangannya. Tak jarang, pedagang tadi berlaku sok akrab. Bahkan mengelus-elus jenggot jamaah Indonesia atau bahkan mengajak bergurau.

Di sela tawar-menawar harga, kalau pas pembeli itu laki-laki, umumnya mereka bertanya. ‘’Berapa istri kamu?’’ tanyanya. Kalau dijawab satu, umumnya ditimpali. ‘’Kamu pelit ya, makanya istri cuma satu,’’ kata pedagang tadi. ‘’Orang sini (Arab) rata-rata beristri dua, bahkan empat. Saya saja punya dua istri,’’ kata pelayan toko emas yang mengaku dari Yaman itu kepada penulis.

Sebaliknya, kalau jamaah Indonesia pintar menawar, apalagi tidak jadi membeli, biasanya para pedagang Arab mengumpat tidak mengenakkan telinga. Meski itu kadang dilakukan secara bergurau. ‘’Kamu baqil, kamu pelit,’’ katanya. (yog/bersambung)