Wakil Ketua Komisi I DPR RI Ahmad Hanafi Rais mendorong agar pemerintah segera membuat regulasi guna melindungi data pribadi warga negara. Perlindungan itu penting agar data-data yang bersifat privat itu tidak disalahgunakan.
“Bagaimanapun data pribadi harus dilindungi. Tugas negara melindungi warga negaranya,” ucap Hanafi di depan peserta Dialog Kebangsaan bertema Peneguhan Spirit Kebangsaan di Era Digital di Hotel Quin’S Colombo Jalan Raya Jogja –Solo Km 14 Kalasan, Sleman, Kamis (30/8).

Hanafi mengatakan, kerap kali masyarakat harus menyerahkan data pribadinya saat berhubungan dengan perbankan atau lembaga lainnya. Setelah disampaikan, perlindungan terhadap data tersebut kurang begitu jelas. Hal itulah yang dikhawatirkan Hanafi.
“Di era digital yang memberikan banyak kemudahan, rawan mendatangkan risiko-risiko bagi warga negara jika tidak mendapatkan perlindungan,”ingatnya.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Henri Subiakto mendapatkan pertanyaan seputar berita hoax atau palsu dari peserta diskusi. Henri menyatakan, kategori berita hoax bila memenuhi unsur mengelabui atau mengaburkan fakta.
Misalnya mewartakan vaksin membuat ideot. “Hoax itu mendatangkan kecemasan dan marah berlebihan. Sebetulnya hoax itu surat kaleng tapi bentuknya digital,” terang pria asal Jalan Taman Siswa Jogja ini.

Pengamat Media Nazaruddin menyesalkan tampilnya juru bicara pemerintah yang belakangan membikin situasi semakin keruh. Dalam banyak diskusi, juru bicara pemerintah Ali Mochtar Ngabalin justru berpenampilan merusak forum. “Itu membikin masyarakat bertambah bingung. Bukan menjelaskan, tapi sengaja membuat kebingungan,” kritiknya.

Dia mengusulkan agar juru bicara pemerintah tidak punya karakter sebagaimana sosok yang belakangan kerap muncul di tv. Nazar juga mengajak agar sarana teknologi informasi digunakan secara sehat dan selektif.
Senada Wakil Ketua DPRD DIJ Arif Noor Hartanto meminta di era digital ini masyarakat tidak gagap teknologi. Namun pemanfaatan teknologi digunakan secara bijak. Bagi Inung, sapaan akrabnya, hal terpenting dari pemanfaatan teknologi adalah demi menguatkan semangat kebangsaan. “Spirit itu harus selalu dijaga,” ajaknya.

Dalam diskusi itu juga muncul kejengahan masyarakat terhadap penayangan infotmasi oleh salah satu stasiun tv. Belakangan tv tersebut berpenampilan layaknya TVRI di masa lalu. “Keberpihaknnya melebihi TVRI. Lebih TVRI dari TVRI,” ujar Hanum Salsabiela Rais yang menjadi moderator.
Selain hoax, hal yang lebih berbahaya adalah framing media atau penggiringan opini. Sama seperti hoax, penggiringan opini juga punya dampak yang sangat luas di masyarakat. (kus/mg1)