ATANG Suparman terus menebar senyum. Pembawaannya memang ramah. Sopir Bus Grup Dallah yang membawa rombongan jamaah haji Indonesia dari Makkah ke Madinah tersebut memang cukup akrab dengan para penumpang.
Sesekali dia menjelaskan situasi jalan yang dilalui. ‘’ Makkah–Madinah jarang ada polisi di jalan. Tapi, kamera ada di mana-mana. Kalau ngebut di atas 100 Km/jam bisa didenda 300 real (Rp 750 ribu). Kadang kamera ditaruh di mobil pinggir jalan. Makanya, kami harus paham di mana kira-kira kamera diletakkan,’’ katanya kepada penulis.

Atang dan rekan sopir satu busnya Kamis (17/11/2011) siang itu kerap melaju di atas 100 Km/jam, bahkan 140 Km/jam. Maklum jalan sangat mulus, lebar, dan sepi. Sampai alarm peringatan terus berbunyi. Itu dilakukan karena bus Atang paling belakang dan harus mengikuti laju rekan-rekannya yang di depan karena melaju sangat kencang. ‘’Jalan 100 Km/jam tidak terasa di sini,’’ tambah Atang.
Pria 44 tahun itu sudah tiga tahun bergabung dengan salah satu perusahaan transpotasi terbesar di Arab Saudi. Namanya Dallah Group. Ada tiga ribu bus dioperasikan dengan ribuan karyawan dari seluruh dunia. ‘’Dari Indonesia ada 18 sopir termasuk saya. Sopir lainya dari India, Bangladesh, Pakistan, Mesir, dan negara Timur Tengah lainnya’’ jelas warga asal Bandung itu.

Kesibukannya ketika Ramadan dan bulan haji selalu meningkat. Rute Atang adalah Bandara Jeddah-Makkah-Madinah.’’Sebulan bisa bolak-balik 10 kali Makkah-Madinah,’’ kata Atang.

Dia mengaku dibayar perusahanya sekitar Rp 4 juta sebulan. Itu penghasilan bersih. Perusahaannya juga menyediakan fasilitas perumahan.
‘’Para sopir dikumpulkan berdasarkan asal negara. Sopir dari Indonesia dijadikan satu flat atau rumah,’’ katanya.

Apakah pernah terjadi gesekan dengan sopir negara lain? Sering. Kadang hanya dipicu masalah sepele. Misalnya, soal parkir bus yang tidak tepat bisa memicu perkelahian. Tapi, sopir Indonesia kompak dan berani.

‘’Meski secara fisik lebih kecil dibandingkan sopir lain, kami berani berantem kalau benar. Makanya, mereka (sopir negara lain) cukup hormat dengan sopir Indonesia,’’ ujarnya.

Sedangkan waktu paling kosong sesudah musim haji. Sebab, perusahannya hanya melayani sewa bus yang berkaitan kegiatan ibadah umrah. ‘’Makanya, banyak karyawan mengajukan cuti panjang setelah musim haji selesai,’’ katanya.

Tidak tanggung-tanggung cuti sampai 1,5 bulan atau 45 hari. Dan itu bisa ditambah 1,5 bulan lagi. Artinya, dalam setahun bisa cuti tiga bulan. ‘’Hanya Grup Dallah yang memberikan cuti setahun sekali. Perusahaan bus lainnya rata-rata dua tahun sekali memberikan cuti pada karyawannya,’’ ungkap Atang. Selama masa cuti perusahaan juga membayar penuh gaji karyawannya. Juga tiket pulang pergi dari Arab ke negara si sopir. Semua ditanggung perusahaan. ‘’Makanya, banyak sopir yang kerasan kerja di sini,’’ ujarnya.

Begitu juga saat musim haji, sebagaian sopir secara giliran diberikan kesempatan menunaikan ibadah haji. ‘’Tahun kemarin saya menunaikan haji. Tahun ini tidak karena banyak kerjaan,’’ sambungnya.

Banyak suka dukanya jadi sopir jamaah haji berbagai negara. ‘’Jamaah haji paling sopan dari Indonesia dan Turki. Mereka menerima dan jarang protes. Juga menghargai sopir,’’ ucapnya.

Namun, jamaah haji dari sekitar Timur Tengah umumnya kerap berulah alias rese. Seperti dari Iran, Irak, Mesir, atau Palestina. Selain membawa barang bawaan cukup banyak, mereka bisa bertindak macam-macam di luar rute yang ada. ‘’Paling rese jamaah dari Mesir dan Palestina. Sopir sering berantem dengan mereka,’’ tutur Atang.

Atang mengaku sering dimaki-maki sebelum bisa berbahasa Arab. Tapi, karena tidak tahu bahasanya, dia pilih diam saja. Tapi, setelah lancar bahasa Arab dia pun melawan kalau posisinya benar. ‘’Kalau diam malah diinjak-injak. Makanya, harus berani melawan,’’ tegasnya.

Kadang jamaah haji, tertutama dari Mesir dan Palestina, kelewatan. Mereka kadang minta rute di luar jadwal yang telah ditentukan. Pimpinan rombongan kadang tidak mampu mengendalikan jamaahnya. Kalau dituruti malah tidak karu-karuan. Karena itu sopir harus berani melawan. Kalau mereka ngotot, bus dihentikan. Mogok. ‘’Kalau mau nyopir sendiri silakan,’’ tantangnya. Biasanya setelah itu jamaah tidak neko-neko lagi,” katanya.

Selain itu barang bawaannya sangat banyak. Apa saja. Sepertinya asal dibawa. Bagasi bus tidak cukup. Makanya, perusahaan selalu menyediakan mobil boks khusus guna mengangkut barang tadi jika yang menyewa jamah haji dari Mesir atau Palestina. Tidak hanya itu, barang besar yang seharusnya ditaruh bagasi kadang dibawa masuk bus.

Selain membuat bus sesak, lalu lalang penumpang juga terganggu. Bahayanya kalau ada kebakaran dalam bus. Penumpang tidak bisa cepat keluar. Itu membahahayakan nyawa mereka. ‘’Kalau tidak bisa diingatkan, saya biasanya pilih mogok,’’ jelasnya.

Karena tidak terima sopir mogok, penumpang melapor ke perusahan bus. Setelah perwakilan bus datang dan tahu masalahnya, biasanya membenarkan sikap yang diambil sopir akibat ulah penumpang tadi karena membahayakan lainnya.

Sebaliknya penumpang yang protes tadi diminta memindahkan barang bawaanya ke bagasi karena terlalu besar. ‘’Kasus begini sering terjadi. Makanya, kami para sopir kadang jengkel dengan penumpang yang tidak bisa diatur,’’ ucapnya.

Kadang para sopir keheranan atas tingkah jamaah haji dari Mesir tadi. Meski sudah berpakaian ihram, mereka kadang masih berkelahi dengan sesama rekannya. Pemicu pertengkaran pun sangat sepele. ‘’Hanya gara-gara rebutan bangku atau tempat duduk,’’ ujarnya.

Kadang jamaah haji tadi tidak mau mengerti. Meski daerah yang dituju, seperti hotel atau tempat wisata, macet. Mereka tidak peduli. Bus harus berhenti persis di depan hotel atau lokasi wisata. Kalau tidak dituruti marah. Akhirnya, perjalanan tambah lama. ‘’Padahal, kalau mau turun sedikit jauh, jalannya bisa lebih cepat. Tapi, mereka tidak mau. Semula kami stres sendiri kalau memikirkan itu. Tapi, lama-lama sudah biasa dengan tingkah jamaah tadi,’’ tuturnya. ‘’Kalau semua anak saya sudah selesai pendidikan saya akan berhenti jadi sopir bus di Arab. Dan, cari kerja di Indonesia,” ungkap Tatang. (yog/bersambung)