KULONPROGO – Institut Penulis dan Penerjemah (IPP) akan hadir di Kulonprogo. Rencana itu terkuak dalam audinesi antara Ketua Umum Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) KP Nasir Tamara Adiningrat dengan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dalam forum Kamisan di Rumah Dinas Bupati Kulonprogo, Kamis (30/8).

“Peran penulis dan penerjemah banyak dan penting. Tanpa penulis dan penerjemah, hal-hal yang bagus dan bermanfaat tidak akan menjadi bahan literasi akademis,” kata Nasir yang juga Direktur Utama PT Sri Rejeki Isman (PT Sritex) Solo.

Dia terkesan dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila khususnya gotong royong di Kulonprogo. Bergotong royong memperbaiki rumah dengan dana bukan dari APBD dan APBN sangat luar biasa.
“Hanya dengan bantuan dari Basnaz Rp 15 juta rumah bisa berdiri, itu karena gotong royong. Kulonprogo juga dinilai punya potensi besar untuk dikembangkan. Atas dasar itu kami ingin menghadirkan sebuah Institut Pendidikan yang mengajarkan penulisan, penerjemahan dan informasi teknologi di Kulonprogo,” ujar Nasir.

Hasto mengatakan gotong royong memang sudah mendarah daging bagi warga Kulonprogo. “Pancasila kalau diperas sari patinya ya Gotong royong itu. Tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus diamalkan,” kata Hasto. (tom/iwa/mg1)