Gelandang bertahan PSIM Jogja Raymond Ivantonius Tauntu menjadi salah satu pemain senior di tim ini. Selama empat tahun, Raymond mengaku betah mengenakan seragam Parang Biru. Apa ambisinya bersama PSIM Jogja ?

Bahana, Jogja

Lapangan Tamanan, Bantul hari itu cukup terik. Di bawah panas sengatan matahari, penggawa Laskar Mataram cukup serius berlatih. Dari sejumlah penggawa, tampak Raymond Tauntu.

Ya, nama Raymond tak asing lagi bagi pencinta PSIM Jogja. Pria kelahiran Makasar, Sulawesi Selatan ini bisa dikatakan salah satu pemain senior di antara skuad muda PSIM Jogja. Sudah empat tahun, dia berseragam parang biru. Meski sejumlah godaan dari klub liga 2 menghampiri, Raymond tetap bergeming untuk tetap setia dengan PSIM Jogja.

Kecuali, bila godaan tersebut datang dari klub Liga 1. Mungkin akan lain lagi ceritanya. Diakui cita-cita tertinggi tinggi dalam karir sepak bola yang tengah ditekuninya saat ini adalah bermain kasta tertinggi Liga Indonesia. ”Target pribadi main di liga satu. Tapi alangkah senangnya bila main di liga 1 bersama PSIM,” kata Raymond kepada Main Bola.

Ya, proses kepindahan jebolan Makasar Football School ini bukan suatu kebutulan. Raymond memang sudah bertekad bisa mengadu nasib di negeri orang. Ketika itu, dia melihat animo sepak bola di Jogjakarta sangat luar biasa.
Ada tiga tim asal DIJ, yang bersaing menjadi yang terbaik. Dan ketiga tim tersebut, ternyata masuk dalam radar Raymond. ”PSIM, PSS, dan Persiba punya basis pendukung fanatik. Memang jalan rezekinya bermain di sini,” kata pria yang pernah mengeyam pendidikan di UNY.

Ya, passion di sepak bola cukup besar. Demi sepak bola, bangku kuliah yang beberapa bulan dia jalani pun ditinggalkan. ”Olahraga ini menjadi jalan hidup saya,” jelasnya.

Lantas apa yang mendorongnya untuk bisa menjadi pemain sepak bola? Ternyata nama legenda sepak bola asal Makasar, Syamsul Chaeruddin.

Nama Syamsul tidak hanya dikenal warga Makasar, tapi seantero masyarakat Indonesia. Di era 2000-an, Syamsul kerap menjadi bagian dari skuad Tim Nasional (Timnas) Indonesia di berbagai event internasional.

Ketika masih kecil, sebutnya, setiap orang yang berbicara tentang sepak bola selalu berbicara tentang Syamsul. ”Dia menjadi idola bagi anak-anak yang belajar sepak bola,” ujarnya.

Raymond sempat satu dengan Syamsul di PSM Makasar. Namun, kebersamaan tersebut tidak lama. Hanya sekitar tiga bulan saja.

Sebelum satu tim di PSM, Raymond kerap kali bertanding dengan klub yang dibela Syamsul, di berbagai ajang tarkam di Makasar. ”Tapi selalu kalah,” ujarnya. Dari perjumpaan tersebut, Raymond banyak belajar dari seniornya. ”Banyak terinspirasi oleh dia,” sambungnya.

Nah, saat mengetahui Syamsul bergabung dengan PSS, Raymond mengaku cukup terkejut sekaligus senang. Sebab duel dengan seniornya tersebut bakal terjadi.

Derby DIJ pun tercipta di Stadion Sultan Agung (SSA) pada Kamis (26/7). Sayangnya, Syamsul tidak masuk dalam starting eleven skuad, Seto Nurdiyantara. Syamsul baru bermain dari bench di babak kedua. Pertandingan berkesudahan 1-0 untuk PSIM.

Raymond mengungkapkan kebahagiannya bisa mengalahkan senior di tim berbeda. ”Cukup bangga bisa mengalahkan idola,” ujarnya seraya tertawa. Usai pertandingan, Raymond memburu jersey sang idola. Pertukaran jersey pun terjadi antar yunior dan senior. ”Kapan lagi punya momen tukar jersey,” jelasnya.

Momen bertukar jersey dengan sang idola ternyata menjadi kenangan indah. Apalagi perjumpaan keduanya tidak akan terjadi di putaran kedua. Sebab, Syamsul tak lagi berseragam Elang Jawa. Namanya dicoret manajemen PSS di putaran kedua ini. ”Saya tetap doakan yang terbaik kepada beliau. Bagaimana pun juga dia adalah legenda sepak bola bagi warga Makasar,” ujarnya. (din/mg1)