SLEMAN – Akumulasi penyerapan dana desa (dandes) di Sleman sudah mencapai 80 persen. Bahkan ada desa yang mampu menyerap 100 persen dandes.

Kepala Seksi Keuangan Desa, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sleman Agung Endarto mengatakan fokus utama penyerapan dandes ada pada pembangunan infrastruktur.

Namun masih ada 15 desa yang penyerapan dandes-nya belum mencapai 75 persen dari dandes tahap I dan II. Penyerapan tersebut mengancam tidak akan turunnya dandes tahap III.

“Guna penyaluran dandes tahap III, setidaknya penyerapan dandes tahap I dan II harus mencapai 75 persen. Jika tidak, maka dandes belum bisa disalurkan,” kata Agung.

Dari Rp 81 miliar dandes yang dialokasikan di APBN untuk 86 desa di Sleman, pada 2018 terdapat perbedaan formulasi pembagian. Dititikberatkan pada tingkat kemiskinan masyarakat. Selain itu, ada peningkatan jumlah nominal dari 2017. “Peningkatannya sekitar Rp 1 miliar,” katanya.

Sedangkan pencairan dandes tahap III masih dalam proses. DPMD Sleman masih menunggu laporan penyerapan anggaran dandes tahap I dan II.
Agung mengatakan pencairan dandes III ditargetkan pertengahan September 2018. “Pencairannya sebesar 40 persen seperti pada dandes tahap II,” kata Agung, Kamis (30/8).

Dikatakan, formulasi pembagian berdasarkan jumlah penduduk miskin, luas wilayah dan letak geografis desa. Desa Wonokerto, Turi, mendapatkan alokasi dandes terbesar yaitu Rp 1,2 miliar.

“Karena jumlah penduduk miskin dan letak geografisnya berada di lereng Merapi,” kata Agung.
Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto memastikan sudah 95 persen dandes tahap I dan II terserap. Pihaknya tinggal menunggu pencairan dandes tahap III.
“Alokasi dandes untuk perbaikan jalan di Dusun Batur dan Dusun Kepuh dan perbaikan lapangan Pager Jurang,” kata Heri.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meninjau proyek irigasi sepanjang 350 meter di Dusun Tampungan, Sendangtirto, Berbah yang alokasinya dari dandes. “Hanya meninjau saja,” ujar Jokowi (29/8). (har/iwa/mg1)