Soal makanan, Madinah tak kalah dengan Makkah. Banyak restoran menjual makanan khas Arab. Nasi mandi, salah satunya. Bahkan di Madinah lengkap pakai kepala kambing utuh dengan harga super murah.

Tak lengkap rasanya jika jamaah haji Indonesia tak mampir di Restoran Hadramaut saat singgah di Madinah. Restoran ini menyediakan aneka makanan khas Arab. Lokasinya di Jalan Sultoni, sekitar dua kilometer arah timur Masjid Nabawi.

Begitu masuk restoran tak begitu besar itu aroma kambing dan ayam dibakar batu sangat menyengat. Asap memenuhi ruang makan restoran berukuran 4 x 6 meter persegi itu.

Jangan bayangkan ada kursi, meja, serta sendok dan garpu seperti rumah makan umumnya. Sebab, rumah makan itu hanya lesehan. Siang itu ada tiga kelompok warga membentuk lingkaran menyantap nasi mandi. Salah satunya jamaah haji dari Indonesia. Itu tampak pada tas kecilnya yang ada bendera Indonesia, Merah Putih.

Beberapa pembeli tampak mengerebuti koki yang sedang membakar ayam di atas batu. Apinya sangat besar hingga asap mengepul dimana-mana. Saat penulis mengambil gambar di dapur terasa begitu panas. Sebab, jarak dapur dengan ruang lesehan cukup dekat. Hanya dibatasi meja kasir.

Dengan demikian, pembeli bisa melihat langsung proses pembakaran ayam di atas batu. Sedangkan untuk masak kambing dan nasi mandi lokasinya agak di belakang. ‘’Cara bakar ayam ya.. begitu, di atas batu,’’ ucap Sirajuddin, mukimin asal Indonesia yang sudah 20 tahun menetap di Saudi Arabia.

Penulis dan tiga rekan memesan nasi mandi dengan lauk kambing. Ini yang special, ditambah kepala kambing utuh. ‘’Pesan satu saja. Kepala kambingnya cukup besar. Nanti tidak habis,’’ ingat Sirajuddin.

Benar saja, begitu pelayan membawa nampan atau baki besar berisi nasi mandi dan aneka daging kambing. Ada paha dengan tulangnya yang besar, jeroan, kaki, serta empal. Dan, paling istimewa kepala kambing tadi. Benar-benar masih utuh. Ukuran kepala kambing cukup besar.

Kepala kambing tadi lantas diangkat untuk diambil gambarnya. ‘’Ojo suwe-suwe rek, kepala kambinge sik panas,’’ kata Ustad Muzzaky, seorang pembimbing haji yang kebagian memegang kepala kambing tadi. ‘’Wah, ini baru istimewa,’’ sahut penulis.

Ada beberapa bagian kepala kambing rasanya sangat istimewa. Pertama, otaknya, lalu lidah, dan daging di bagian kepalanya. Saat di-rogoh bagian otaknya yang empuk seperti daging lunak. Wah rasanya mak nyuss… Benar-benar enak. ‘’Rasanya nyetak, benar-benar menempel di lidah,’’ ujar Ustad Muzzaky yang penggemar berat masakan daging kambing itu.

Tak kalah enaknya bagian lidah kambing. Meski sepintas terlihat kenyal, saat digigit ternyata empuk. Rasanya benar-benar enak meski masih kalah dengan otak kambing. ‘’Tapi, ini (lidah) juga bagian paling enak. Apalagi, kalau diris-iris kacil pakai bumbu kecap. Wow..benar-benar nikmat,’’ tambah Sirajuddin.

Tak kalah enaknya daging-daging yang menempel pada tulang kepala dan sekitar telinga kambing. Saat daging dikuliti rasanya begitu gurih. Rasa daging ini sangat khas dibandingkan bagian daging lain pada kambing. Benar-benar bikin ketagihan.

Bagaimana rasanya daging kambing lainnya? Sama seperti di restoran khas Arab di Makkah yang pernah penulis didatangi. Benar-benar enak. Saat daging dijumput dari tulang langsung kemrupus. Dagingnya empuk dan sangat enak. Apalagi, dicampur semacam cabai merah Arab dalam bentuk cairan. ‘’Rasanya pedas gurih. Ini cabai cair khusus,’’ kata Sirajuddin.

Selain menu yang disajikan khas Arab, yang membuat banyak pengunjung mendatangi restoran ini karena tidak menguras kantong. Bagaimana tidakl, untuk kambing utuh cukup besar hanya dihargai 10 real atau sekitar Rp 25 ribu. ‘’Ini sangat murah. Kalau di Indonesia kepala kambing mentah saja harganya lebih Rp 60 ribu. Itu belum diolah dan dimasak,’’ jelas Sirajuddin.

Murahnya daging kambing di Saudi Arabia tak lepas dari kebiasaan masyarakat Arab yang dikenal penggemar berat daging kambing. Harga kambing di Arab lebih murah dibandingkan di Indonesia. Karena harga daging kambing di pasar juga murah. ‘’Musim haji atau tidak harga kambing stabil,’’ tambah Sirajuddin.

Rasa nasi mandi Madinah hampir sama dengan di restoran Makkah. Rasanya gurih meski tidak terlalu menyengat seperti nasi kabuli atau nasi kuning di Indonesia. Hanya, kalau di Makkah nasinya putih kekuningan. Di Madinah sudah dimodifikasi sedikit. Ada merah dan kuning. Tapi, rasanya sama-sama gurih.

Sedangkan bagi jamaah yang suka roti, di Arab juga ada yang khas. Namanya, roti tamis. Roti yang awalnya dibuat bundar sebesar bola tenis itu dibakar dengan dijepit besi dalam tungku yang panas.

Beberapa menit kemudian, roti kesukaan warga Arab itu pun sudah matang. Bentuknya tidak lagi bulat tapi melabar hingga sebesar piring besar. ‘’Harga satu buah roti hanya 1 real (Rp 2.500). Cukup murah untuk ukuran orang Arab,’’ jelas Sirajuddin yang menemani penulis melihat proses pembuatan roti tamis di kawasan Jalan Sultoni.

Bagi jamaah yang bosan dengan masakan hotel di Madinah bisa mencoba beberapa masakan Indonesia di food court Taman Firdaus, Madinah , yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Nabawi.

Di sana ada sate ayam atau kambing di salah kedai. Juga ada bakso Si Doel Madinah. Harganya cukup murah hanya 6 real atau sekitar 15 ribu per porsi. Juga ada bakso Solo di kawasan itu.

Tak heran setiap usai salat Magrib banyak jamaah haji Indonesia kongkow-kongkow di situ. Mereka biasanya pesan di food court. Lalu ramai- ramai makan di Taman Firdaus. (yog/bersambung)