Lebih Dekat dengan Muhammad Hinayah, Atlet Peraih Medali Emas Asian Games 2018
Muhammad Hinayah kecil rutin berlatih di Alun-Alun Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kini, impian pemuda kelahiran 12 Desember 1995 itu terwujud. Medali emas panjat tebing kategori men’s speed relay beregu Asian Games 2018 dalam genggamannya.

Dwi Agus, Sleman

Suasana Bandara Internasional Adisutjipto Selasa (28/8) sore tak seperti biasanya. Pintu kedatangan tampak dipenuhi puluhan orang. Lebih ramai dibanding biasanya. Di antara mereka adalah komunitas panjat tebing DIJ. Rupanya mereka sedang menunggu kedatangan rombongan atlet Cabang Olahraga Panjat Tebing.

Sekitar pukul 16.20 pesawat yang membawa rombongan atlet dari Palembang ini tiba di bandara. Suasana terminal A yang semula adem ayem langsung berubah. Puluhan calon penumpang histeris. Mereka berlomba-lomba swafoto dengan rombongan atlet yang mengharumkan nama Indonesia di ajang olahraga terbesar di Asia itu. Tak terkecuali pegawai bandara. Puluhan orang yang semula menunggu cukup lama di pintu kedatangan pun ikut berjalan menuju terminal A.

Nah, Muhammad Hinayah adalah salah satu anggota dalam rombongan itu. Dengan mengenakan jaket merah, Iin, sapaan Muhammad Hinayah juga telaten meladeni satu per satu permintaan swafoto.

IKUT BANGGA: Penumpang pesawat di Terminal A Bandara Adisutjipto Jogjakarta berebut swafoto bersama Muhammad Hinayah.
(DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Dalam Asian Games 2018, Iin berhasil menyabet medali emas. Persisnya dalam kategori men’s speed relay beregu. Bersama dua rekannya. Yaitu, Rindi Sufriyanto dan Abu Dzar Yulianto.

Kendati usai menempuh perjalanan cukup jauh, Iin tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Wajahnya semringah. Senyum juga tampak mengembang dari bibirnya. Itu seolah menjadi penanda bahwa raihan medali emas adalah impiannya sejak kecil.
”Akhirnya terbayar setelah mendapatkan target,” ucap Iin saat ditemui di bandara.

Bagi Iin, capaian dalam ajang olahraga empat tahunan itu sangat spesial. Ada banyak kendala yang harus dilalui ketika Iin memutuskan panjat tebing sebagai pilihannya. Saat kecil, misalnya. Ketika masih duduk di bangku SD 4 Sekayu, Iin kecil harus berlatih di Alun-Alun Sekayu. Jaraknya sekitar dua kilometer dari rumahnya. Tak jarang Iin kecil diantar ibunya.
”Latihan sering diantar ibu,” kenangnya.

Seiring waktu berjalan, Iin dipercaya sebagai salah satu atlet Asian Games 2018. Sulung enam bersaudara ini harus menjalani pemusatan di Jogjakarta. Jauh dari keluarga dan tanah kelahirannya.
”Sudah setahun belakangan berlatih rutin di Jogjakarta,” tuturnya.

Terlahir dari keluarga sederhana, Iin benar-benar tak ingin melewatkan kesempatan berlaga di Asian Games. Apalagi, kedua orang tuanya juga mendukung sepenuh hati. Bahkan, ayahnya rela menempuh perjalanan cukup jauh ke Jakabaring Sport City Palembang. Demi memberikan dukungan dan semangat kepada Iin.
”Bertanding di Palembang menjadi penyemangat tersendiri. Senang sekali saat tahu (ayah) datang ke lokasi pertandingan untuk mendukung,” ucap Iin menyebut bahwa medali emas dipersembahkan untuk kedua orang tuanya.

Medali emas telah diraih. Bonus dari Kementerian Pemuda dan Olahraga juga telah menanti. Ketika bonus cair, Iin berjanji ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Caranya dengan merenovasi rumahnya. Juga, memberangkatkan keduanya umrah ke Tanah Suci.
”Yang penting orang tua bahagia,” ujar mahasiswa jurusan manajemen informatika Poltek Unsri ini penuh haru.

Sebagai anak, Iin menilai, kedua orang tuanya sosok luar biasa. Meski bekerja serabutan, sang ayah mendukung penuh pilihannya. Profesi sebagai tukang becak, kuli bangunan, hingga membantu berdagang kerabat pernah dilaluinya. Itu bertujuan agar seluruh anak-anaknya meraih impiannya. Tak terkecuali Iin. Sedangkan sang ibu sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.

Asian Games 2018 hampir selesai. Namun, Iin tak ingin berhenti melangkah. Dia sedang mempersiapkan diri untuk ajang bergengsi lainnya.
”Selalu ingin membawa Indonesia dalam ajang internasional,” tambahnya. (zam/mg1)

GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA