Mata pelajaran fisika selalu identik dengan rumus yang susah dan prospek kerja ke depan tidak terlalu jelas. Padahal ilmu fisika ternyata bermanfaat bagi kehidupan. Program Studi Fisika MIPA Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta tidak diajarkan teori fisika secara umum saja, tapi juga diarahkan ke ranah yang lebih aplikatif.

“Ada banyak peluang pekerjaan bagi lulusan fisika aplikatif ini. Bahkan pasarnya sudah banyak di Indonesia,” ungkap Ketua Prodi Fisika MIPA UAD Damar Yoga Kusuma kepada Radar Kampus di ruangan kerjanya, Rabu (29/8).

Damar Yoga Kusuma.
(Ketua Prodi Fisika MIPA UAD)

Pada program studi ini ada tiga peminatan yang ditawarkan. Yaitu, Metrologi, Material Elektronika, dan Instrumentasi. Pada bidang peminatan Metrologi misalnya, mahasiswa akan diarahkan kepada metrologi medis yang menangani kalibrasi alat-alat medis di rumah sakit. Peluang kerjanya sangat luas karena tidak banyak sumber daya manusia (SDA) yang berkompeten dalam hal ini.
“Ada ribuan rumah sakit dan puskesmas yang membutuhkan tenaga metrologi yang bertugas untuk mengkalibrasi alat-alat medis mereka,” tegas Damar.

Selain itu, mahasiswa juga diarahkan untuk mempelajari metrologi legal. Cabang ilmu ini biasanya berkaitan dengan ekonomi, hukum, bisnis, industri dan pembangunan. Cabang ilmu ini mengurusi beberapa hal. Misal takaran SPBU, neraca di pasar, pengukuran keseimbangan jembatan, dan lain-lain.

Di pemerintahan, ini ditangani langsung UPT Metrologi di masing-masing kabupaten. Di Jogjakarta baru ada dua kabupaten yang punya UPT Metrologi, yaitu di Sleman dan Bantul. Terakhir, mahasiswa akan diajarkan metrologi ilmiah yang lebih diarahkan untuk mengembangkan teknologi pengukuran yang mutakhir. Seperti pengukuran akreditasi dan badan standarisasi.

Peminatan kedua yang ditawarkan Prodi Fisika MIPA UAD yaitu Material Elektronika. Peminatan ini difokuskan kepada penggunaan material bahan dalam negeri dibuat menjadi piranti elektronika. Industri di Indonesia, menurutnya, belum merdeka. Misal pada industri smartphone. Indonesia bahkan masih menggunakan produk luar negeri.
“Pemerintah sebenarnya sudah mengatur kalau semua smartphone dan tablet di Indonesia 30 persen perangkatnya harus berasal dari Indnesia. Begitu juga dengan produksinya,” katanya.

Kendati begitu, walaupun sudah diatur sejak 2015, belum ada perusahaan yang menerapkannya. Nah, mahasiswa dengan peminatan material elektronika akan diarahkan ke sana. Walaupun belum bisa merakit smartphone atau tablet secara utuh, mahasiswa sudah diajarkan untuk meneliti lebih dalam komponen-komponennya.

Hubungannya dengan ilmu fisika, lebih kepada sifat materialnya. Soal bahan yang digunakan, kekuatannya, kelistrikannya. Jadi mahasiswa akan benar-benar dibekali dengan ilmu fisika mendalam. Setidaknya mereka bisa mengetahui keseluruhan secara utuh, dan mengembangkan terobosan produk terbaru dari pembelajaran itu. “Akarnya diperkuat, kemudian ditambahkan dengan terapan-terapan agar lebih mantap,” tegasnya.

Peminatan ketiga, yaitu Instrumentasi. Ada dua fokus yang ditawarkan pada peminatan ini, yaitu instrumen kebencanaan dan medis. Karena Indonesia berada pada titik rawan bencana, seperti gempa bumi, tanah longsor, dan gunung berapi. Dengan teknologi fisika instrumentasi, tenaga ahli bisa mengetahui status kebencanaan hanya dengan menaruh sensor detektor di lokasi-lokasi yang rawan.

Alat sensor ini kemudian memancarkan signal analog. Signal analog diubah menjadi signal digital kemudian dikirimkan lewat data. Dalam hal ini, Fisika MIPA UAD bekerjasama dengan BPPTKG Jogjakarta. “Setidaknya kami bisa mengantisipasi bencana secara lebih dini,” tegasnya. Dalam instrumentasi medis, dikembangkan pengembangan inovasi produk deteksi gula darah.

Prodi ini sifatnya eklsklusif. Artinya, prodi ini tidak menerima banyak mahasiswa. Hanya menerima satu kelas dalam setiap penerimaan mahasiswa baru. Satu kelas maksimal 25 mahasiswa. Damar yakin pembelajaran akan lebih efektif dengan kelas skala kecil ini. “Hingga saat ini untuk semua kelas dari semester awal hingga semester akhir ada 120 mahasiswa saja,” tegasnya.

Fisika MIPA UAD hanya satu-satunya prodi yang punya peminatan metrology. Juga satu-satunya prodi fisika yang fokus kepada fisika material elektronika. Untuk menunjang kemajuan ilmu pengetahuan, Fisika MIPA UAD sudah difasilitasi dengan Laboratorium Kalibrasi dan Uji (LKU) UAD di bawah PT Adimulti Kalibrasi. “LKU UAD sudah mendapat lisensi dari berbagai lembaga di Indonesia untuk keakuratannya,” jelasnya. (ega/laz/mg1)