GUNUNGKIDUL – Dampak kekeringan meluas. Dari 18 kecamatan yang ada di Gunungkidul, 12 di antaranya mengalami kesulitan air. Tercatat 31.807 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan tersebar di 352 padukuhan.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, kekeringan melanda 12 kecamatan. Meliputi Girisubo, Nglipar, Paliyan, Panggang, Purwosari, Rongkop, Tanjungsari, Tepus, Ngawen, Ponjong, Gedangsari dan Saptosari.

Pengaruh musim kemarau sangat dirasakan warga Padukuhan Ngrisik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop. Warga setempat menggali tanah bekas telaga mengering guna memperoleh air dari tanah kering yang mulai retak.

“Air tersebut kami gunakan untuk memenuhi kebutuhan minum ternak dan mencuci,” kata Warsidi, warga setempat, Selasa (28/8).

Dia berpanas-panasan dan menunggu berjam-jam air keluar dari tanah karena mempertimbangkan nilai ekonomi. Sebagai seorang petani dia kerepotan jika harus membeli air dari pihak swasta.
“Satu tangki air seharga Rp 120 ribu dan hanya bisa digunakan selama sebulan,” ujar Warsidi.

Debit air yang keluar dari galian tanah sudah berkurang banyak. Butuh waktu sejam agar air keluar dan menggenang kembali. Bantuan droping air sudah ada, namun masih kurang.

“Air hasil galian juga kami pakai untuk minum keluarga. Namun diendapkan dahulu supaya jernih,” kata warga lainnya, Wiwin Winarti.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan anggaran penanggulangan kekeringan Rp 600 juta sudah terpakai Rp 400 juta. Sebanyak 117.116 jiwa terdampak kekeringan Gunungkidul.

Anggaran tersebut tidak hanya untuk membeli air. Juga untuk membeli bahan bakar truk tangki dan servis truk.
“Sejauh ini belum kami tetapkan status darurat kekeringan,” ujar Edy.
Sedangkan Pemprov DIJ sudah memberikan bantuan droping air melalui Dinas Sosial Gunungkidul. Bantuan tersebut sebanyak 450 tangki sudah tersalurkan ke warga yang membutuhkan.

“Mengenai tawaran Pak Gubernur agar mengirimkan proposal anggaran pemanfaatan sumber air belum kami lakukan. Kalau dari BPBD belum (membuat proposal),” ujar Edy.
Anggaran droping air, menurut Edy, masih mencukupi. Bantuan dari pihak ketiga terus mengalir. Dia berharap penyaluran air berkoordinasi dengan pemkab agar tidak tumpang tindih.

“Kami juga telah koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait musim kemarau. Kekeringan diprediksi hingga Oktober, sementara puncaknya bulan depan,” kata Edy. (gun/iwa/mg1)