Pemerintah Optimalkan Peran Petani dan Perusahaan Swasta

SLEMAN – Sawit menjadi salah satu produk unggulan Indonesia. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit, pemerintah dan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) berupaya menciptakan pola kemitraan antara perusahaan dan petani.

Direktur Riset dan Pengembangan PT RPN Dr Gede Wibawa menjelaskan, alternatif pola kemitraan sawit bagi perusahaan dan petani terbagi tiga. Yakni pola kemitraan satu atap, pola kemitraan inti plasma, dan pola kemitraan koperasi mandiri. Pola kemitraan satu atap merupakan pengelolaan kebun plasma yang dilakukan perusahaan mulai menanam, memelihara, memanen, hingga mengambil hasilnya. “Dalam hal ini petani akan mendapatkan hasil bersih dari perusahaan,” ujarnya di sela diskusi dwi bulanan kelapa sawit yang diselenggarakan PT RPN di Mataram 3 Room, Sheraton Mustika Hotel Jogjakarta, Selasa (28/8).

Sedangkan pola kemitraan inti plasma adalah penetapan perusahaan sebagai developer dan avails. Artinya, perusahaan bertanggung jawab untuk membangunkan kebun dan menyediakan atau mencarikan dananya. Dengan demikian, fungsi dan perannya menjadi lebih nyata. Atau lebih bertanggung jawab sampai dengan terwujudnya kebun dan lunasnya kredit petani.

Sementara pola kemitraan koperasi mandiri berupa alternatif penyediaan dana pinjaman bagi sektor pertanian. Dapan menggunakan model koperasi pertanian yang menyediakan fasilitas simpan pinjam berbasis usaha tani. Koperasi yang bersangkutan juga menyediakan sarana produksi pertanian dan sekaligus sebagai pasar hasil produksi pertanian. “Lewat diskusi dwi bulanan di Jogjakarta diharapkan bisa diperoleh alternatif pola kemitraan yang tepat bagi perusahaan dan petani,” tutur Gede dalam diskusi bertema Pola Kemitraan Antara Petani dan Stakeholder yang Potensial.

Asisten Deputi Perkebunan dan Hortikultura, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Willistra Danny mengungkapkan, untuk mendongkrak hasil sektor produksi sawit telah dilakukan perluasan lahan 14,03 hektare. Ada tiga pemain utama dalam pengembangan sektor perkebunan sawit. Perusahaan swasta berkontribusi memperluas lahan sawit sebesar 50 persen. Sedangkan perusahaan negara 10 persen. Dan petani 40 persen.

Persentase perluasan kebun sawit tersebut menunjukkan peran petani begitu signifikan. Hanya, sejauh ini peran petani belum maksimal. Itu lantaran masih ada kesenjangan kapasitas petani, baik dalam hal keterampilan, pengetahuan, maupun manajerial. “Kemitraan bagi para petani di Indonesia merupakan hal yang penting untuk meningkatkan penghasilan dan produksi sawit,” ujarnya di sela diskusi pola kemitraan dalam rangka meningkatkan peran petani sawit dan stakeholder potensial di Hotel Sheraton Jogjakarta, Selasa (28/8).

Di mata dunia Internasional, lanjut Danny, petani sawit Indonesia dicap sebagai ancaman kelestarian lingkungan. Itu karena beberapa negara di dunia menganggap petani sawit menjadi biang terjadinya deforestasi, kebakaran lahan, dan penurunan keanekaragaman hayati, hingga pencemaran lingkungan. Bahkan tak sedikit negara menuding petani sawit Indonesia merupakan penghasil sawit tidak sehat.

Willistra tak sepakat dengan pendapat tersebut. Melihat potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada, ditambah optimalisasi peran petani, Willistra sangat optimistis. Indonesia bisa menjadi negara penghasil sawit terbesar di dunia. ”Karena itu kami berusaha memaksimalkan kapasitas produksi para petani sawit,” ujarnya.

Menurut Danny, saat ini para petani di Indonesia hanya mampu memproduksi 2-3 ton sawit per tahun. Sedangkan perusahaan bisa mencapai 6-8 ton. Willistra menyebut, rendahnya produktivitas sawit di Indonesia disebabkan usia tanaman terlalu tua. Lebih 25 tahun. Penggunaan bibit yang kurang baik turut memengaruhi hasil produksi.

Nah, pola kemitraan diperlukan untuk menggenjot produktivitas sawit. Dengan melibatkan perusahaan-perusahaan swasta atau negara dan stakeholder lainnya. “Jika produktivitas sawit meningkat, pemerintah tidak perlu lagi menambah lahan sawit,” katanya yakin.

Untuk memulai program kemitraan setidaknya harus dilakukan tiga tahap prakondisi. Pertama, pendataan jumlah petani yang kredibel. Kedua, harus dibuat base line. Ketiga, pilot project.

“Base line berfungsi mengukur kinerja dari pola kemitraan tadi,” jelasnya.
Pola kemitraan dalam upaya meningkatkan produktivitas sawit merupakan hal baru. Karena itu harus diawali dengan uji coba, sebelum diterapkan bagi seluruh petani sawit di Indonesia.

Peneliti Universitas Sumatera Utara Dr Diana Chalil menyatakan, program kemitraan produksi sawit bakal dampak signifikan bagi petani. Sebab, ada beberapa hal yang tak bisa dilakukan petani. Namun bisa dilakukan pihak lain. Dengan pola kemitraan akan tercipta sinergi positif mutualisme antara petani dan perusahaan sawit. Tanpa bermitra, maka hasil produksi petani tak akan maksimal. Kendati demikian, usaha kemitraan replanting memerlukan kesinambungan jangka panjang. “Ini akan terjadi jika ada flow dan interdependency antarpihak yang terlibat,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti Universitas Jambi Dr Zulkifli Alamsyah mengatakan, ada tiga prinsip utama kemitraan. Saling membutuhkan, mendukung dan menguatkan, serta saling menguntungkan. (*/har/yog/mg1)