TUNTUTAN profesionalitas PDAM Tirtamarta kian menguat dari wakil rakyat. Bahkan, demi merealisasikan peningkatan kualitas dan kuantitas perusahaan pelat merah itu, DPRD Kota Jogja menargetkan payung hukum penyertaan modal, yang diikuti peningkatan profesionalitas kinerja.

Anggota Badan Pembahasan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Jogja Bambang Anjar Jalumurti mengungkapkan, dewan tak hanya mendorong penyertaan modal. Tapi juga meminta adanya perubahan kelembagaan PDAM menjadi perseroan. Ini agar PDAM mampu bersaing. Tak hanya sekadar melayani permintaan air seperti saat ini.

“Dari sisi internal manajemen keuangan akan sangat menguntungkan. Kemudian dari layanan, masyarakat juga pasti akan mendapatkan pelayanan yang prima,” ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera ini, Selasa (28/8).

Dari sisi kelembagaan, lanjut Bambang, PDAM bakal mengalami banyak perubahan. Itu sebagai konsekuensi perubahan kelembagaan dari perusahaan daerah menjadi perseroan. “Otomatis efektivitas juga akan menjadi pertimbangan. Struktur yang ramping dan efisien,” jelasnya.

Pembahasan materi kelembagaan PDAM beriringan dengan wacana penambahan modal. Makanya, untuk penambahan modal PDAM Tirtamarta, dewan bersama tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) memasukkannya pada perubahan APBD tahun ini. Jika tak memungkinkan, maka dimasukkan APBD 2019.

Konsekuensi sebagai perseoran, pengembangan bisnis PDAM nantinya semakin luas. Diversifikasi usaha menjadi kewajiban bagi PDAM. Mulai produksi air minum kemasan, sampai pengembangan jaringan pipa peninggalan Belanda.

Dengan peningkatan pelayanan tersebut, PDAM diharapkan mampu menyumbang pendapatan daerah lebih besar. Tak lagi seperti saat ini yang rata-rata tiap tahun hanya Rp 1 miliar. “Potensinya sangat banyak. Mulai pemanfaatan air di hotel-hotel, air minum, sampai pemanfaatan jaringan pipa,” katanya.

Menurut Bambang, pemanfaatan jaringan pipa PDAM menjadi sarana paling potensial untuk mengubah wajah Kota Jogja. Bekas pipa PDAM itu bisa dimanfaatkan untuk tempat kabel-kabel listrik milik PLN. Bahkan bisa dimanfaatkan untuk jaringan internet, mengingat kapasitasnya satu setengah meteran. Jaringan bekas pipa Belanda itu membentang dari ujung timur Kota Jogja di Jalan Solo sampai barat di Jalan Godean. Dari utara Jalan Magelang sampai selatan Jalan Bantul. (*/yog/mg1)