HAWA sejuk menyambut kedatangan jamaah haji begitu memasuki Madinah Kamis (17/11/2011). Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 18.00. Rata-rata suhu udara saat itu sekitar 25 derajat Celsius.

‘’Biasanya kalau musim haji turun hujan di Madinah,’’ kata Atang, sopir bus Grup Dallah, yang bolak-balik melayani rute Makkah-Madinah.

Saat bus salah satu rombongan jamaah haji merapat di hotel yang lokasinya tidak jauh dari kompleks Masjid Nabawi, jamaah lainnya tampak beriringan keluar dari pelataran masjid setelah menunaikan salat Magrib.

Ya, Madinah dengan Masjid Nabawi menjadi ikon utama kota ini. Jamaah haji dari seluruh dunia yang datang di kota Rasul ini umumnya mengaku lebih tenang begitu sampai lokasi.

‘’Makkah dan Madinah memang beda. Di sini (Madinah) para jamaah merasa lebih tenang. Ayem. Suasana kotanya enak apalagi di seputar Masjid Nabawi,’’ kata Ustad Muzzaky, seorang pembimbing haji.

Itu tak bisa dipisahkan dari peran Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban dunia. Selama 13 tahun sejak hijrah dari Makkah Rasul mengajarkan, menyebarkan, tata cara, dan adab bermasyarakat yang baik sesuai tuntunan agama Islam.

‘’Dasar-dasar ajaran Rasul dipakai masyarakat Madinah dan seluruh dunia dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat,’’ tambahnya.

Karena itu, jika ada jamaah haji yang membawa handphone diimbau mematikannya oleh pengurus masjid. Atau di-silent saat memasuki masjid. Terutama saat salat. Agar tidak mengganggu kekhusyukan salat. Makanya, khatib atau imam salat di Masjid Nabawi selalu mengingatkan jamaah menjaga adab, etika, dan sopan santun selama di masjid Rasul.

Sebab, ada saja jamaah berperilaku kurang etis, seperti penulis lihat, jamaah asal India dan Asia Selatan yang ber-handphone di dalam masjid saat jamaah lain menunaikan salat. Makanya, imam dan khatib kadang marah mengingatkan jamaah haji menjaga adab seperti, diajarkan Baginda Rasul Muhamad SAW dalam dakwahnya selama 13 tahun di Madinah.

Setiap Senin dan Kamis sore, menjelang salat Magrib, di setiap sudut Masjid Nabawi ada kelompok-kelompok pengajian, membaca Alquran sambil menunggu buka puasa sunah. Para jamaah seluruh dunia yang kebetulan akan salat di Masjid Nabawi bisa bergabung.

Sambil menanti buka puasa bersama, diisi tausiah dengan bahasa Arab. Di hadapan para jamaah terhidang sajian menu buka puasa beralas plastik supaya tidak mengotori kesucian masjid. Ada air zamzam, kurma, dan makanan ringan lainnya. Begitu azan berkumandang mereka minum dan makan bersama, dilanjutkan salat Magrib berjamaah. ‘’Kebiasaan baik ini patut ditiru di masjid-masjid besar di Indoneisa,” kata Ustad Muzazky.

Senada diungkapkan Harjono, jamaah haji plus asal Jawa Timur. Begitu memasuki Madinah hatinya terasa ayem. Selain letak tata bangunan yang teratur, tidak macet, warganya juga ramah.

‘’Penataan kotanya mirip di negara Eropa. Rapi dan enak dilihat mata. Ya, seperti kota-kota di Belanda,’’ kata pengusaha kapal itu.

Begitu tertibnya penataan Madinah, pembangunan gedung maupun hotel di sini tak boleh lebih dari 14 tingkat. Khususnya bangunan di dekat Masjid Nabawi.
Alasan utama penyeragaman tingi gedung karena faktor keamanan. Dengan gedung lantai 14, pemadam kebakaran masih bisa menjangkaunya jika terjadi kebakaran. Tapi, yang jelas ketinggian gedung atau hotel di Madinah tak lebih tinggi dari menara Masjid Nabawi yang puncaknya berlapis emas murni.

Makki M. Djaelani, mukimin asal Indonesia yang sudah 20 tahun tinggal di Saudi Arabia, menambahkan, ketenangan yang dirasakan jamaah atau pendatang begitu sampai Madinah tak lepas dari karakter warga setempat yang cukup ramah terhadap orang asing. Itu akan berpengaruh kepada pendatang atau jamaah luar yang ketularan ikut ramah. ‘’Itu terjadi sejak Rasul hijrah ke kota ini ratusan tahun lalu,’’ kata Makki.

Jalan-jalan di Madinah, khususnya di seputaran Masjid Nabawi, sangat ramah bagi pejalan kaki. Selain median jalan cukup lebar, sekitar 3 meter, kawasan pendestrin atau trotoar juga didesain sangat lebar. Rata-rata enam meter, bahkan lebih.

Ini membuat nyaman dan aman bagi jamaah haji yang pulang-pergi dari hotel tempat menginap mereka ke Masjid Nabawi dengan berjalan kaki. Selain itu jalanan juga bersih. Beberapa pasukan pembersih tampak bersiap di sudut jalan sambil membawa cikrak.

Lalu lintas pun tidak begitu padat, hingga polusi sangat minim. Apalagi, di sekitar kawasan Masjid Nabawi yang dikitari hotel jarang ada pembangunan atau renovasi hingga tidak ada debu atau suara berisik.

Ditambah pengendara mobil di Madinah cukup menghormati pejalan kaki. Mereka umumnya menghentikan laju mobil begitu ada penyeberang jalan lewat. Apalagi, ada rombongan jamaah haji. ‘’Jadi, jamaah bisa begitu menikmati kota Madinah saat jalan-jalan,’’ kata Makki.

Begitu ramahnya Madinah, ribuan burung merpati pun bisa hidup bebas di kota ini. Setiap pagi ratusan burung berterbangan ke sana kemari. Begitu ada warga memberi makanan mereka akan mengerubutinya.

Masjid Nabawi mampu menampung ratusan ribu jamaah. Selain musim haji tak kurang 500 ribu jamaah memadati masjid ini. Saat musim haji jamaahnya bisa lebih dari 1 juta. Tapi, Masjid Nabawi dengan halaman sangat luas, ditambah lantai dua masih bisa menampung seluruh jamaah.

Di Masjid Nabawi, saf pria dan perempuan saat salat jamaah dipisahkan. Bahkan saat salat di Raudhah, yakni tempat paling mustajab, bekas rumah, halaman, dan mimbar Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.

Jamaah di sini juga tergolong disiplin. Jalan di dalam masjid yang dialasi karet hampir tidak pernah dipakai untuk salat. Meski jamaah sangat padat. Mereka akan terus maju dan mencari tempat yang longgar untuk salat.

Lalu lalang jamaah pun tidak terganggu, meski di dalam masjid sudah penuh. Berbeda dengan di Masjidilharam. Jangankan tempat jalan, halaman dan putaran anak tangga pun dipakai salat. Kadang jamaah tertahan, tak bisa bergerak karena jalan tangga dipenuhi jamaah perempuan yang salat.

Salat di halaman Masjid Nabawi jamaah tidak akan kepanasan. Ada payung raksasa yang melindungi jamaah dari sengatan matahari. Payung-payung secara otomatis akan ditutup menjelang sore. Kabarnya, pembuatan sebuah payung raksasa menghabiskan miliaran rupiah. Padahal, di tempat itu ada puluhan payung raksasa.

Empat kubah yang bisa dibuka tutup untuk pencahayaan dan sirkulasi udara menjadi ciri khas Masjid Nabawi yang tak ada di masjid lain. Kalau pagi dibuka dan ketika panas akan ditutup.

Sedangkan di lantai dua masjid didesain terbuka. Agar jamaah yang salat tidak kepanasan ada beberapa bangunan mirip joglo di sudut lantai dua dengan ruangan terbuka.

Bahan baku marmer untuk dinding dan lantai, serta lampu listrik masjid dengan sedikitnya 2.400-2800 pilar semuanya didatangkan dari Italia. Dengan kualitas semua bahan nomor satu. Areal parkir Masjid Nabawi sangat luas. Empat lantai di basement bisa menampung sedikitnya 4.440 kendaraan.

Sedangkan untuk mendinginkan ruangan Masjid Nabawi, Pemerintah Saudi Arabia membangun pusat ruangan AC berjarak sekitar 10 kilometer dari Masjidilharam. AC disalurkan lewat pipa yang sangat panjang dan keluar dari pilar-pilar di dalam Masjid Nabawi. Tak heran, hawa udara di dalam masjid tetap sejuk meski siang terik. Makanya, tak sedikit jamaah bersandar dan tiduran di pilar masjid. (yog/bersambung)