JOGJA – Anak-anak perlu lebih mengenal dolanan anak tradisional. Dolanan anak mengajarkan menjadi individu sportif, pantang menyerah, serta peduli lingkungan.

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggelar Festival Dolanan Anak se-Kota Yogyakarta 2018. Kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahun, dilaksanakan di Pendopo Taman Siswa, Jalan Taman Siswa (28/8).

Kepala Bidang Adat, Seni dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Mukti Wulandari mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ir Eko Suryo Maharsono MM mengatakan, kegiatan tersebut memberikan apresiasi pada anak yang menjunjung budaya. Terutama dolanan anak yang masih eksis.

“Festival Dolanan Anak ini merupakan festival tahunan yang dilaksanakan di Kota Yogyakarta. Dolanan anak menumbuhkembangkan karakter anak. Badan dan jiwanya. Tumbuh dan kembang adalah hak anak. Supaya sehat, ceria, dan cerdas,” kata Mukti.

Melalui dolanan, anak belajar toleransi. Tidak membedakan mana yang kaya dan miskin. Mereka bisa membaur. Sementara dari sisi budi pekerti, anak bisa mengakui kesalahan dalam bermain.
Menerima kekalahan dengan senang hati. Tidak mengejek dan saling mendukung. Hal itu, kata Mukti, akan mereka temui di kehidupan sehari-hari nantinya.

Menang kalah itu biasa, yang utama guyub rukun tidak saling membenci. “Nilai-nilai filosofis dalam dolanan anak itu yang tidak ditemukan di dalam permainan digital,” kata Mukti.

Festival digelar tiga hari. Peserta berasal dari perwakilan 14 kecamatan se-Kota Yogyakarta. Masing-masing perwakilan terdiri 25-30 anak. Mereka diberi waktu menampilkan gerak dan lagu diiringi gamelan. Di dalamnya disisipkan beberapa permainan tradisional anak.

“Semoga dolanan anak berkembang. Tidak ditinggalkan. Mereka mencintai budaya Jawa karena tinggal di Jawa. Karakter anak terbentuk lebih baik di era milenial dan digital, budaya leluhur jangan sampai tergerus zaman,” ujar Mukti. (*/riz/iwa/mg1)