JOGJA – Penggunaan nuklir kini berkembang ke dunia kesehatan. Salah satu pemanfaatannya dapat membantu untuk mendeteksi dan menyembuhkan kanker dengan metode Boron Neutron Capture Therapy (BNCT).

Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Jazi Eko Istiyanto mengatakan, BNCT merupakan terapi yang ideal untuk penderita kanker. Menggunakan reaksi nuklir yang terjadi dalam sel antara inti Boron (BIO) dengan neutron. Hasil dari reaksi inti tersebut adalah partikel berenergi tinggi a (He4) dan inti Lithium (Li).

“Partikel berenergi tinggi ini yang akan menghancurkan sel kanker melalui interaksi dari DNA,” jelasnya saat Rapat Koordinasi Nasional Keselamatan Radiasi pada Fasilitas Kedokteran Nuklir di salah satu hotel di Jalan Mangkubumi, Jogja, Selasa (28/8).

Jazi menjelaskan, sistem pengobatannya dengan menggunakan akselerator (alat untuk mengakselerasi partikel). Kemudian disuntikan sampai ke titik yg dituju (sel kanker) tanpa merusak sel sehatnya.

Di Indonesia sendiri saat ini sudah ada 15 rumah sakit yang menerapkan fasilitas Kedokteran Nuklir tersebut. Optimalisasi dari fasilitas itu pun terus didorong oleh BAPETEN.

Dokter spesialis Kedokteran Nuklir Basuki mengatakan, masyarakat banyak yang salah kaprah soal fasilitas Kedokteran Nuklir ini. Mereka mengira fasilitas ini digunakan untuk mengobati pasien yang terkena radiasi nuklir.

“Dari 15 rumah sakit itu, kami tidak hanya membantu mendeteksi dan mengobati kanker tapi juga menangani pengobatan kelenjar tiroid atau gondok, pengobatan hiperfungsi kelenjar gondok. Di Bandung juga sedang dikembangkan pengobatan untuk kanker prostat,” ungkap Basuki.

Meskipun demikian, Basuki menyebutkan tenaga medis dalam Kedokteran Nuklir ini belum mencukupi. Hanya ada 41 dokter spesialis Kedokteran Nuklir yang bertugas di 15 rumah sakit. Mereka harus berkompeten di bidang ini dan mempunyai izin resmi.

“Dokter spesialis kedokteran Nuklir masih sangat kurang terutama di daerah, kesiapan pendidikan tinggi, sertifikasi, distribusi, dan jumlah personel untuk fisikawan medis, radiofarmasis, radiografer, perawat, dan analis kesehatan,” tuturnya.

Peneliti Utama Pusat Sains dan Teknologi Akselerasi Batan Jogja Yohannes Sardjono memaparkan, risiko radiasi dalam BNCT ini sangat kecil karena hanya sel kanker saja yang dibunuh, sementara sel sehat tidak dihilangkan.

“Ini menjanjikan sekali untuk kesehatan masyarakat, memperkecil efek samping sel sehat, dibanding radioterapi dan kemoterapi. Sayangnya Indonesia (pemerintah) belum memiliki komitmen untuk pengembangan BNC ini, baik soal dana dan regulasinya,” jelas Sardjono.

Di Jogja sendiri ada tiga rumah sakit yang mempunyai fasilitas Kedokteran Nuklir ini, salah satunya RS Dr Sardjito. BAPETEN sebagai lembaga pemerintah yang diberi amanah untuk menjadi regulator bagi pemanfaatan radiasi atau tenaga nuklir di Indonesia juga telah menerbitkan peraturan untuk menjamin keselamatan di fasilitas yang menggunakan kedokteran nuklir. (ita/ila)