JOGJA – Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY mengadakan Forum Komunikasi Perpustakaan Sekolah di kantor BPAD DIY Jalan Tentara Rakyat Mataram Jogja, Senin (27/8). Salah satu agendanya, sosialisasi Pergub 18/2018 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah.

Kepala BPAD DIY Monika Nur Lastiyani mengatakan pertemuan tersebut juga untuk mengoordinasi agar perpustakaan sekolah saat diakreditasi mendapatkan nilai baik.
“Kami sudah mempunyai produk hukum yang namanya Pergub tentang penyelenggaraan perpustakaan sekolah. Pergub itu berasal dari turunan Pedoman Standar Nasional Perpustakaan sekolah yang diterbitkan Perpustakaan Nasional RI,” kata Monika.

Dikatakan, ruh aturan itu adalah pengelolaan perpustakaan yang standar, dan pengakuan standar itu apabila sudah mendapatkan akreditasi. Permasalahannya, sampai 2018 di DIY, perpustakaan sekolah di tingkat SMA yang sudah terakreditasi baru 31 dari 460-an.
“Pada 2018 masih ada akreditasi yang nanti dilaksanakan Agustus, Oktober dan November 2018. Mudah-mudahan dari tiga kali ini, jumlah perpustakaan yang terakreditasi bertambah,” ujar Monika.

Hadir dalam pertemuan tersebut, 75 sekolah yang perpustakaannya sudah terakreditasi dan yang akan diakreditasi. Pihaknya berharap, sekolah yang terakreditasi mempunyai nilai baik.

Sebab anggaran akreditasi masih tergantung dari Pusat. Di daerah baru lima titik dari APBD, sedangkan dari pusat 100 titik. “Makanya saat mendapat kesempatan akreditasi bisa optimal dan nilainya baik,” ujar Monika.

Mewakili Disdikpora DIY, Yanuari mengatakan maju tidaknya sekolah salah satunya dilihat dari perpustakaan. Kepala sekolah perlu mengelola anggaranya. Masalah salah satunya, komite tidak boleh menentukan nominal dan waktunya jika ada sumbangan dari wali murid. Selain itu tenaga pustakawan banyak yang belum spesifik.
“Akan kami data dan BPAD memberikan pendampingan sekolah yang siap akreditasi. Dengan perpustakaan yang baik anak akan berprestasi,” tuturnya.

Salah satu pengelola perpustakaan sekolah Zainal Fanani mengatakan masih ada perpustakaan sekolah yang ala kadarnya. Padahal perpustakaan yang baik perlu mengikuti standar. Problemnya di sosialisasi dan komitmen.
“Pimpinan sekolah yang punya komitmen yang bisa menerapkan standar nasional perpustakaan,” katanya.

Perpustakaan saat ini juga perlu mengikuti selera anak-anak dan peserta didik. Di antaranya keren, nyaman, inspiratif.
Anak Indonesia, kata Zainal, senang membaca, asalkan perpustakaan nyaman dan menyenangkan. Selanjutnya perpustakaan harus kaya informasi, dinamis, serta multiakses. (*/riz/kus/iwa/mg1)