MAGELANG – Upaya mengenang sosok pahlawan Pangeran Diponegoro dan perjuangannnya dilakukan masyarakat di Magelang. Mereka mengadakan Haul Kanjeng Pangeran Diponegoro di Museum BPK RI, kompleks eks-Bakorwil II Kedu Surakarta, Jalan Diponegoro, Kota Magelang, Minggu (26/8) lalu. Selain ribuan orang jamaah pengajian, hadir Wali Kota Sigit Widyonindito, Pangdam IV/ Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto, dan Dandim 0705/Magelang Letkol Arm Kukuh Dwi Antono.

“Kesempatan ini selain mengaji kita juga berdoa bersama untuk Pangeran Diponegoro. Beliau adalah pahlawan nasional yang rela mengorbankan harta, bahkan jiwa raganya untuk kemerdekaan bangsa ini,” kata Sigit. Ia berharap warga, terutama generasi muda dapat mengisi kemerdekaan sesuai yang dicita-citakan pahlawan terdahulu.

Sementara itu, Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Wuryanto mengungkapkan, Diponegoro benar membawa hikmah bagi bangsa Indonesia. Tak hanya dijadikan nama satuan TNI di Jawa Tengah dan Jogjakarta, nama Diponegoro juga dipakai untuk sebuah universitas.

“Untuk itu saya berharap kepada semuanya, supaya kita mampu mengambil hikmah patriotisme dari Sang Pangeran. Sosok Diponegoro, dari segi apa pun banyak yang bisa dipetik untuk anak-anak kita sebagai pengabdian terhadap bangsa dan negara,” tuturnya.

Dalam tausiyahnya, KH Chalwani mengungkapkan, Diponegoro bukan hanya seorang pangeran atau putra raja. Tetapi juga menjadi seorang penyulut semangat perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme Belanda. Sosok pahlawan nasional yang melegenda ini adalah seorang santri dan kiai pertama yang berani menantang penjajah Belanda.

“Berkat perlawanan dari Perang Jawa, yakni 1825-1830 yang dikomandoi Pangeran Diponegoro ini pula memberi inspirasi perlawanan masyarakat Jawa dan Indonesia,” ungkapnya.

Pimpinan Ponpes Nawawi Purworejo ini mengatakan, nama kecil Diponegoro adalah Antawirya. Ia seorang santri yang tekun beribadah dan sangat menghormati gurunya. Diponegoro adalah putra Sultan Hamengku Buwono III yang menolak dijadikan penerus raja.

“Pangeran Diponegoro pula yang menginspirasi santri dan pengikutnya mendirikan ponpes di Pulau Jawa, termasuk Jawa Barat dan Jawa Timur. Tidak heran jika selama penjajahan Belanda, santri-santri dan kiai yang paling getol memberikan perlawanan,” jelasnya.

Chalwani menjelaskan penting bagi masyarakat Indonesia meneladani sosok Pangeran Diponegoro ini. Kecerdasan, kematangan, dan ilmu agama yang mumpuni menjadi bekal Diponegoro melawan Belanda. Tak pelak, meski hanya lima tahun, Perang Jawa menjadi perang yang paling merugikan pihak Belanda.

“Perang Jawa sangat merugikan pihak musuh. Sekitar 8.000 tentara Belanda tewas dan biaya perang mencapai angka 25 juta gulden atau setara 2,2 miliar dollar AS saat ini,” ujarnya.

Ia juga menceritakan sepenggal kisah penangkapan Pangeran Diponegoro. Tepat di tempat haul itulah Diponegoro ditipu Jenderal De Kock dan ditangkap hingga diasingkan ke Manado. Di Museum Diponegoro, banyak peralatan dan saksi bisu perjuangan Diponegoro yang masih tersimpan dengan baik.

“Jadi, saya harap kalau ibu-ibu dan bapak-bapak ini berkunjung ke Kota Magelang, ya jangan cuma ke Taman Kyai Langgeng saja, tapi juga ke Museum Diponegoro. Banyak pelajaran sejarah, sehingga kita bisa terilhami dari sikap-sikap bijak beliau,” tandasnya. (dem/laz/mg1)