Dua Skenario Mitigasi Merapi
JOGJA – Selain terus melakukan pemantauan kondisi puncak Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebancanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta juga menyiapkan skenario erupsi Merapi. Ada dua skenario yang disiapkan.

Skenario pertama terjadi erupsi yang berujung luncuran awan panas. Kawasan rawan bencana (KRB) III wajib dikosongkan. Skenario kedua pertumbuhan kubah lava berhenti. Itu artinya aktivitas terhenti dan hanya membentuk sumbatan.
“Skenario pertama, diprediksi jika terjadi luncuran awan panas radiusnya lebih dari tiga kilometer. Kalau tersumbat ya berhenti, ini skenario dua,” jelas Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG DIJ Agus Budi Santoso, Senin (27/8).

Jika terjadi erupsi, lanjut Agus, dipastikan material tidak sebanyak erupsi 2010. Catatan BPPTKG DIJ, erupsi besar Merapi 2010 lalu mengeluarkan sekitar 140 juta meter kubik material. Sementara dari catatan terakhir, 26 Agustus, material kubah lava baru 36 ribu meter kubik. Hingga kini Gunung Merapi masih berstatus Waspada.

Agus menuturkan energi Merapi habis terkuras saat 2010. Bahkan volume magma tertinggi diantara erupsi-erupsi sebelumnya. Hanya saja,Agus mengingatkan potensi bahaya tetap ada. Terutama kemunculan luncuran awan panas atau wedhus gembel.
“Berdasarkan observasi memang tidak sebesar 2010 yang sifatnya eksplosif. Jika terjadi erupsi, prediksinya mengarah erupsi efutif,” ujarnya.

BPPTKG Jogjakarta juga terus meneliti arah luncuran magma dan awan panas. Berdasarkan pertumbuhan kubah lava, luncuran diprediksi arah tenggara.
Rerata pertumbuhan harian terpantau rendah, di kisaran 1.000 hingga 4.600 meter kubik. Perbandingan rentang 1992 hingga 2010, pertumbuhan kubah lava bisa mencapi 20 ribu meter kubik perharinya.
“Kalau arah luncuran berdasarkan mulut kawah cenderung ke tenggara, arah Kali Gendol. Mengarah sebagian Sleman dan Klaten,” katanya.
Terkait prediksi klimak pertumbuhan, dia enggan menjelaskan. Terlebih perhitungan eksata harus dilengkapi dengan data valid. Hanya saja dia membenarkan beberapa kali puncak Merapi mengalami gempa dan guguran kecil.

Kondisi cenderung aman selama guguran tidak mencapai radius tiga kilometer. Posisi kubah lava juga berada di titik tengah. Tepatnya menempati gundukan kubah lava 2010. Dampak pertumbuhan inilah yang menyebabkan aktivitas kegempaan di puncak Merapi.

Untuk mitigasi, BPPTKG Jogjakarta tetap koordinasi dengan BPBD DIJ maupun Sleman dan Klaten. Sesuai dengan prediksi arah luncuran. “Kalau untuk stabil (posisi kubah lava), belum bisa diprediksi bisa hitungan minggu sampai bulanan,” jelasnya. (dwi/pra/mg1)