JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ Pembayun Setyaningtyastutie tidak begitu ambil pusing dengan polemik kehalalan vaksin measles rubella (MR). Karena itu, Pembayun menegaskan, pelaksanaan imunisasi MR yang dijadwalkan bulan depan tidak bisa diundur lagi. Toh, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperbolehkannya.

”Targetnya seluruh balita dan anak di DIJ harus diimunisasi,” tegas Pembayun di kantornya pekan lalu.
Baginya, pengunduran waktu pelaksanaan imunisasi sama halnya dengan berjudi. Mempertaruhkan kondisi kesehatan anak-anak di DIJ. Alias menunggu potensi terjadinya infeksi rubella menyerang mereka. Padahal, dampak penyakit ini tidak bisa diremehkan. Dapat menyebabkan kematian.

”Masyarakat tidak bisa menunggu sampai vaksin halal yang diinginkan itu ada,” ucapnya.
Kendati fatwa ini sempat menuai polemik di kalangan bawah, pembayun tetap optimistis bahwa masyarakat saat ini pandai. Mereka mampu melihat manfaat pofitif imunisasi MR.

”Tolong lihat dampaknya yang akan didapat manakala anak-anak dan balita tidak diimunisasi,” ingatnya.
Atas dasar itu pula, Pembayun berani bertaruh. Dia memperkirakan hasil imunisasi MR bakal terlihat 20 tahun ke depan. Dia meyakini pemuda-pemudi di DIJ merupakan generasi sehat dan cerdas. Dengan begitu, mereka dapat berkontribusi terhadap pembangunan.

Terkait vaksin MR, Pembayun menyampaikan bahwa produk dari India saat ini adalah yang terbaik. Vaksin yang paling memenuhi standar mutu ketika diberikan kepada balita. Kendati begitu, pemerintah pusat juga berencana memproduksi vaksin sendiri. Hanya, pembuatan vaksin bukan perkara gampang. Harus mempertimbangkan standar dan tingkat kualitas. (tif/zam/mg1)